Monthly Archives: January 2008

Bunga Potong dari Tomohon

Beberapa langkah sederhana akan membuat bunga potong tampil segar dan cantik lebih lama.

Berkontur pegunungan dan berhawa sejuk, Tomohon menjadi tempat yang pas untuk bercocok tanam. Bukan saja tanaman hortikultura, tetapi juga bunga-bunga hias alias florikultura. Memanfaatkan bekal kesuburan tanah yang diberikan alam, Pemerintah Kota Tomohon mencanangkan proyek jangka panjang yang bertujuan menjadikan kota di Sulawesi Utara ini sebagai Kota Bunga.

Sejalan dengan cita-cita tersebut, pada 29 Juni hingga 6 Juli 2008 akan digelar Festival Bunga Tomohon. Bisa dibilang ini semacam Festival Bunga Pasadena, California, Amerika Serikat. ”Festival Bunga Tomohon akan melibatkan 10 juta bunga potong hasil pertanian setempat,” jelas Jefferson SM Rumayar, Walikota Tomohon, saat konferensi pers di Jakarta, belum lama ini.

Sejak zaman penjajahan Belanda, warga kota Tomohon sudah banyak yang menjadi petani bunga. Hingga sekarang, bunga masih menjadi andalan untuk memacu ekonomi rakyat. ”Targetnya tahun 2012 kami dapat menjadi eksportir bunga,” imbuh Jefferson.

Bunga khas
Bunga apa saja yang tumbuh subur di Tomohon? Gladiol, aster, krisan, anyelir, dahlia, dan rosida merupakan tanaman hias yang paling mudah ditemui di sana. Selain itu, ada pula Anthurium dan keladi tengkorak (Alocasia cuprea). ”Kerklily, amarilis, krisan, dan mawar juga banyak dibiakkan dan tak kalah banyak diminati,” cetus Karen Sjarief, ketua Asosiasi Bunga Indonesia.

Di Tomohon, kerklily merupakan bunga yang ‘wajib’ disediakan saat pesta pernikahan. Tradisi menghadirkan kerklily telah berlangsung turun temurun. ”Kerklily adalah lambang pernikahan,” ungkap Karen yang menjadi anggota tim perancang blue print Kota Bunga.

Di antara sekian banyak jenis bunga hias tersebut, aster tergolong bunga favorit. Sebanyak 1,36 juta potong aster dihasilkan petani bunga setempat pada tahun 2005 silam. Meski demikian, angka produksi aster masih terpaut cukup jauh dibanding gladiol. Sejauh ini, produksi gladiol mencatat rekor tertinggi. Sebanyak 2,4 juta potong gladiol diproduksi pada tahun 2005. Gladiol merupakan salah satu bunga potong yang paling banyak dicari, baik untuk hiasan di gedung pesta atau di rumah huni. Ukuran bunganya yang relatif besar membuatnya eye catching dan pantas dibeli.

Gladiol juga kaya warna. Ada gladiol merah muda, putih bergaris ungu, oranye muda, oranye, kuning, gladiol dua warna, dan tentunya putih. ”Sayangnya, gladiol cepat layu,” kata Karen. Meski begitu, kondisi tersebut masih dapat disiasati. Tentunya, teknik memanen yang benar juga harus diterapkan. ”Bunga potong sebaiknya tidak dipanen ketika mentari sedang terik. Panenlah sebelum matahari terbit atau menjelang petang,” saran Karen.

Saat memanen, potong miring batang bunga. Dengan begitu, tercipta penampang batang yang lebih luas untuk menyerap air. ”Saat membeli bunga potong di kios bunga, pilih yang tiga perempat mekar,” Karen memberi tips. Bunga yang terlanjur mekar, otomatis tidak bisa dinikmati keindahannya dalam waktu lama. Hanya dalam sekejap, bunganya akan layu dan rontok. ”Jika ingin memboyong bunga potong ke luar kota, pilih yang masih kuncup. Krisan dan gladiol, cukup tahan lama. Sedangkan, aster umurnya lebih pendek,” urai Karen.

Perawatan
Agar bunga potong yang dibeli tahan lebih lama, Anda mesti memberi perhatian ekstra pada aspek perawatannya. Hal terpenting ialah faktor kebersihan. ”Jika kebersihannya dipelihara, bunga potong pasti tahan lebih lama,” ucap Karen. Bagaimana merawatnya? Pastikan Anda menambahkan mineral pada air perendam bunga potong. ”Campurkan sedikit gula pada air dan biarkan ujung batang terendam sekitar 5 cm.”

Kebersihan vas bunga juga penting untuk dijaga. Lantas, jangan biarkan bunga hias Anda terpapar langsung sinar matahari. ”Suhu udara berpengaruh pada kesegaran bunga potong.” Gladiol, aster, dan krisan biasanya layu dari bawah. Saat itu terjadi, angkat yang layu dan potong ujungnya. ”Ingat, vas bunga yang terlalu penuh diisi air akan mempercepat pembusukan,” Karen mengingatkan. Selamat merawat bunga potong, dan nikmati keindahannya di dalam hunian Anda. rei

http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=310792&kat_id=340

Category: Uncategorized

Flora Langka: Anggrek Hutan Kalimantan Terus Diburu

Dwi P Djatmiko, Direktur Eksekutif Yayasan Cakrawala Hijau Indonesia Kalimantan Selatan, tak bisa menutupi kekecewaannya ketika bicara kondisi terakhir habitat anggrek hutan di Pegunungan Meratus. Kemampuan kami terbatas, penyelamatan yang bisa dilakukan hanya pada dua kampung di Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Daerah lainnya, kami tidak bisa berbuat banyak, katanya.

Kekecewaan itu tentu beralasan. Sebab, setahun terakhir perburuan anggrek hutan dan berbagai tanaman alam lain yang dijadikan tanaman hias dari Pegunungan Meratus terus marak dan tak terkendali. Kalau ini terus dibiarkan, lama-lama habis dan bisa saja orang Kalsel nanti hanya dapat menyaksikan kekayaan alam daerah ini di luar daerahnya, bahkan di luar negeri, katanya.

Pengambilan anggrek hutan Meratus dalam skala besar, kata dia, terjadi tahun 1980 oleh seorang peneliti dari Eropa di Gunung Halao-halao. Sekarang, koleksi anggrek Meratus yang terlengkap ternyata ada di Botanical Garden di London, Inggris. Daerah ini memang menjadi incaran karena sangat kaya dengan anggrek. Bahkan, ekspedisi Meratus yang dilakukan YCHI tahun 2005 saja menemukan lebih dari 100 jenis anggrek hutan, ungkapnya.

Kini perburuan anggrek berlangsung besar-besaran dan terus-menerus. Yang kami bisa pastikan tak terjadi penjarahan anggrek hutan Meratus hanya di Desa Haratai dan Malaris, Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Warga dua desa ini membudidayakan sekitar 30 jenis anggrek hutan, hasilnya mereka jual Rp 50.000 hingga Rp 250.000 per pot, katanya.

Daerah lainnya, terutama di enam kabupaten, di antaranya Tabalong, Balangan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, dan Tapin, pengambilan anggrek hutan dan tumbuhan hutan lainnya terus berlangsung.

Perburuan anggrek hutan tropis basah dataran rendah itu begitu hebat menyusul booming bisnis tanaman hias di Indonesia akhir-akhir ini. Hal ini memicu munculnya para pedagang tanaman hias dadakan di Kalsel. Sayangnya, yang mereka jual bukan tanaman hias hasil budidaya, tetapi mengambil dari alam.

Dan untuk mendapatkan berbagai jenis tanaman khas Kalimantan, mereka tidak perlu pergi ke hutan berhari-hari. Para pedagang itu tinggal menyuruh warga setempat masuk hutan.

Apa yang diambil dari hutan semua mereka beli secara karungan dengan harga Rp 10.000 hingga Rp 50.000 per karung.

Dari Kecamatan Loksado, anggrek hutan diangkut dengan sepeda motor atau mobil bak terbuka. Pengangkutan biasanya berlangsung Jumat malam atau Sabtu pagi. Mereka menempuh jalan sekitar 180 kilometer arah Banjarmasin dan menggelar dagangannya di pinggir jalan di Kilometer 7 Jalan A Yani, Kecamatan Kertak Hanyar, Kabupaten Banjar. Pasar itu hanya berlangsung setiap hari Minggu.

Minggu (28/10), misalnya, berbagai jenis anggrek hutan dijual dengan murah di pasar ini. Jenis anggrek yang seluruh daunnya merah dan belum diketahui namanya dijual Rp 10.000- Rp 15.000 per pot. Sementara anggrek jenis pandu dijual Rp 5.000 per tangkai. Anggrek tebu atau anggrek macan jika sedang berkembang baik, harganya bisa mencapai jutaan rupiah.

Selain anggrek, juga dijual berbagai jenis tumbuhan jenis paku-pakuan dan lumut. Kampil warik (tanaman merambat berbentuk kantong seperti pipi monyet saat penuh makanan) hanya dijual Rp 5.000 per tangkai, sedangkan bunga bangkai Rp 60.000 per umbi. Kantong semar yang dijual di pasar dadakan ini sebagian besar didatangkan dari Hampangin, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah.

Saya setiap minggu mencari jenis anggrek baru. Kalau beruntung, bisa dapat jenis anggrek yang bagus dengan harga murah, tutur seorang perempuan yang tinggal di Perumahan Kayu Tangi, Banjarmasin.

Mereka yang datang ke pasar itu tak hanya dari Banjarmasin dan sekitarnya, tetapi juga dari Jakarta. Selain untuk oleh-oleh, ada juga yang sengaja membeli dalam jumlah besar untuk dijual lagi di Ibu Kota. Agar lolos dari pemeriksaan petugas bandara, tumbuhan hutan itu dikemas dalam kardus dan dimasukkan bagasi atau dititipkan pada pedagang untuk dikirimkan lewat jasa pengiriman barang.

Pengurasan sumber daya hutan di Pegunungan Meratus tampaknya akan terus berlanjut karena belum ada upaya maksimal untuk menghentikannya. (M Syaifullah)

http://www.kompas.co.id/kompas%2Dcetak/0710/30/daerah/3962263.htm

Category: Uncategorized

Adenium: Pasarnya Sudah Pasti, Grosiran Lagi.

Menakar prospek bisnis pembibitan bonggol tanaman hias adenium.

Banyak mata rantai bisnis tanaman hias apa pun, salah satunya adalah pembibitan. Khusus untuk adenium, bisnis pembibitan memiliki peran yang sangat unik.

Dari seluruh rantai usaha tanaman hias adenium, sektor pembibitan memiliki posisi strategis. Tentu Anda masih ingat bahwa keunikan kamboja jepang adalah kemudahan batangnya disambung dengan adenium dari jenis lain (grafting). Itu sebabnya melalui teknik ini para pembudidaya adenium bisa mendapatkan adenium berbunga cantik sekaligus berbatang montok bak tanaman bonsai berumur puluhan tahun.

Sekadar memperbanyak adenium berbunga menarik itu gampang. Anda tinggal memotong batang adenium bersangkutan lalu menancapkannya di media tanam. Asal dirawat penuh perhatian dan tak ada yang salah pada media tanam, batang tadi pasti tumbuh menjadi tanaman baru yang kelak berbunga secantik induknya. Tapi, pembanyakan adenium dengan cara vegetatif seperti ini tak akan menghasilkan batang montok dengan segera. Anda harus menanti bertahun-tahun demi mendapatkan bentuk batang’yang menarik.

Adenium berbunga cantik sekaligus berbatang menarik hanya bisa diperoleh melalui grafting. Dari sinilah muncul peluang usaha pembibitan adenium yang khusus bakal digunakan sebagai batang bawah grafting. Maksudnya, bibit sengaja dibesarkan untuk dipotong batang utamanya dan disambung dengan batang adenium jenis lain yang berbunga cantik.

Tak perlu pusing memikirkan tren
Calon bibit yang paling pas untuk keperluan ini adalah adenium jenis obessum. Hal paling menarik dari bisnis pembibitan bonggol adalah adanya pasar yang pasti (captive market). Para pembeli bibit ini adalah para pembudidaya adenium yang mau tak mau harus terus-menerus melakukan grafting demi mendapatkan adenium unggulan. Pokoknya, selama teknik penyambungan batang masih ada, bisnis pembibitan bonggol kagak ade matinye!

Usaha pembibitan bonggol memang tak berurusan langsung dengan end user. Jarang jarang konsumen adenium mau membesarkan tanaman idamannya dari bonggol atau melakukan grafting sendiri. Dengan kata lain, bisnis pembibitan bonggol ini tidak bersifat grosiran Sekali beli sedikitnya seratus batang, kata Asep, salah seorang pemilik Indonursery yang rutin mengirim bibit bibit bonggol ke berbagai daerah di Indonesia.

Sekadar gambaran, Godong Ijo Nursery, yang dikenal sebagai embahnya pedagang adenium, setidaknya membutuhkan bibit bonggol antara 8.000 hingga 10.000 batang per bulan. Namun, tak jarang mereka juga harus membeli sampai 12.000 batang bibit bonggol. Kebutuhan batang bawah adenium itu mereka penuhi dari pasokan para petani dari sekeliling Godong Ijo di Sawangan, Depok.

Berhubung pembibit hanya berkonsentrasi menyemai biji lalu memaksimalkan pertumbuhan, Anda tak akan direpotkan oleh berbagai faktor lain yang biasa menimpa pembudidaya adenium di rantai lain. Anda tak perlu repotrepot memikirkan tren bunga, melakukan kawin silang, atau menawarkan iming-iming pemasaran tertentu untuk end user. Para pembibit adenium obessum yang sudah mapan umumnya tinggal menanti telepon order berdering.
Namun, tentu saja, tak ada bisnis yang bisa menggelinding semudah membalikkan batang tanaman. Para pembibit bonggol harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya; dari mencari biji adenium yang unggul, menyiapkan media tanam yang cocok, menyediakan pupuk dan hormon yang sesuai, menyiapkan lahan yang memadai sampai memikirkan sarana transportasi atau pengiriman saat harus memenuhi pesanan dari pelanggan.

Salah satu faktor utama kesuksesan bisnis ini terletak pada biji yang unggul. Menurut pengalaman Asep, sejauh ini biji-biji impor dari Thailand masih menjanjikan tingkat keberhasilan lebih tinggi daripada biji kamboja jepang lokal.

Kemungkinan tumbuhnya bisa di atas 95% kata dia. Bukan hanya itu, kalaupun sama-sama berhasil tumbuh menjadi kecambah, umumnya bibit dari biji impor mampu berkembang lebih bongsor ketimbang biji lokal, kendati umurnya sama. Bi,ji dari adenium lokal lebih kontet, imbuh Asep.

Banyak penjual biji yang menawarkan biji adenium obessum impor ini. Asep sendiri menjual biji kepada para petani plasma yang berkongsi dengannya seharga Rp 500 per biji, untuk setiap pembelian per 1.000 biji. Tak semua penjual biji hanya melayani partai besar. Petani Bunga Nursery di Purwokerto, misalnya, melayani pemesanan biji pesanan kecil. Mereka menjual biji obessum mixed Rp 600 per biji.

Biji adenium obessum impor yang dirawat dengan baik akan memiliki laju perkembangan diameter batang yang pesat. Setiap bulan diameter batang bisa bertambah 1 cm. Garis tengah batang menjadi patokan penting karena harga bibit bonggol bergantung pada montok tidaknya batang bawahnya.

Umumnya, pengusaha graftin.g membutuhkan bonggol yang berdiameter sedikitnya 3,5 cm. Meskipun begitu, kata Asep, bonggol berumur sebulan dengan dia meter 1 cm-1,5 cm pun sudah mulai laku dijual. Soalnya ada saja pembeli yang ogah menyemai biji, tapi berani mengembangkannya kalau sudah jadi kecambah, katanya. Harga jual bibit bonggol obessum cukup variatif.

Asep, misalnya, memasarkan bonggol berdiameter 3 cm-5 cm dengan harga Rp 5.000 per batang untuk pesanan minimal 100 batang. Tentu saja harga jual batang ini juga naik turun seperti komoditas lainnya.

Belajar dengan Menjadi Plasma

Kendala paling awal yang menghadang hasrat orang untuk terjun di dunia usaha adalah pasar. Itu sebabnya pengusaha yang baik sejak awal sudah berorientasi pada aspek pemasaran. Baru kalau pasar sudah menjanjikan dari awal, di situlah muncul peluang usaha.

Peluang bisnis pembibitan bonggol adenium sudah jelas dari awal, karena pasarnya memang sudah pasti. Namun, tak seperti pedagang di pasar yang tinggal menggelar dagangan lalu menanti pembeli, para pembibit bonggol adenium mesti aktif mencari calon pembeli. Tapi, mereka bisa langsung menetapkan sasaran pasar, yaitu para penjual adenium hibrida yang memutuhkan bonggol untuk grafting. Dus, kalau ada calon pembeli yang sejak awal sanggup menampung hasil budidaya, tentu bisnis ini makin menggiurkan. Adakah?

Iya, ada. Indonursery menyambut dengan pintu terbuka kepada siapa saja yang tertarik berbisnis penyemaian biji adenium dan bergabung dengan jaringan plasma mereka. Bukan hanya siap menampung bonggol hasil persemaian yang sesuai dengan standar mereka, Indonursery yang bermarkas di Kawasan Cibinong, Kabupaten Bogor, itu juga menawarkan bimbingan budidaya secara cumacuma.

Asep, salah seorang pemilik Indonursery, berterus terang bahwa mereka mengembangkan sistem inti plasma ini karena kewalahan memenuhi permintaan bonggol adenium. Saat ini setiap pekan mereka mengirim sedikitnya 1.500 batang ke berbagai daerah Nusantara.

Peminat bisa memesan biji unggul dari Indonursery seharga Rp 500.000 per 1.000 biji. Asep juga menyediakan segala sarana perlengkapan budidaya yang sesuai dengan harga relatif murah dibandingkan dengan harga pasar.

Asalkan budidaya pembibitan dilakukan sesuai manual, menurut Asep, diameter bibit hasil penyemaian bisa bertambah 1 cm per bulan. Dia siap menampung pada saat bibit berumur tiga bulan dengan diameter 3 cm dengan harga Rp 2.000 per batang. Semakin besar diameter, semakin mahal harganya.

Anda tertarik? Sayang penawaran ini hanya berlaku untuk peminat dari Bogor dan sekitarnya.

Kontan Edisi Khusus Oktober – November 2007

Category: Uncategorized

Bibitan Burgundi, Mirip Hookeri Lainnya.

Banyak yang salah sangka seputar bibitan Burgundi. Seringnya yang didapat justru Hookeri lenis lainnya. Apalagi yang lis hitamnya belum kelihatan. Maklum bibitan Burgundi yang sudah beredar saat ini adalah produk lokal yang karakternya dekat dengan versi Fillipina. Fisiknya, mirip dengan Hookeri pada umumnya.

Sedangkan produk impor yang masuk ke Indonesia umumnya sudah tidak berupa bibitan tetapi sudah remaja. Bila dicermati, jenis Hookeri Burgundi meski masih ‘bayi’ sudah punya karakter khas yang beda dengan Hookerii umumnya, yakni berdaun lebih tebal. Tak jarang saking tebalnya daunnya sampai menekuk membentuk seperti tanduk. Seperti koleksi Heru, dari Ijo Royo Nursery Surabaya.

Meski masih bibitan seringkali daun Burgundi bisa kompak dan punya pangkal daun (stang) yang pendek. Daun Burgundi juga melebar di dekat pangkalnya serta meruncing di bagian ujungnya. git

Agrobis, Edisi 744 September 2007

Category: Uncategorized

Refleksi: Mimpi Indah Bersama Anthurium

Tapi, memang baru tahun ini terjadi, pemain burung walet dan pengumpul cengkih berselingkuh dengan anthurium. Banyak pula juragan yang dulu mata bisnisnya tak berurusan dengan tumbuhtumbuhan –seperti pengusaha bus, supermarket, bahan bangunan, kontraktor, perusahaan bakery, atau pabrik sepatu– kini juga sibuk bermain anthurium.

Orang kantoran yang telanjur ikutan berbisnis anthurium juga mulai pada gelisah. Banyak di antara mereka sudah ngebet kepingin segera pensiun dini. Maklum, gaji mereka cuma Rp 10 juta per bulan, sementara dari menjual satu pot anthurium mereka bisa menyabet untung sampai Rp 20 juta.

Orang kaya baru juga banyak. Ada petani kecil yang berhasil membeli Honda Jazz dari jualan anthurium. Banyak ibu rumahtangga yang tiba-tiba merasa jagoan dari suaminya karena berhasil memiliki sebuah kulkas empat pintu atau TV plasma baru hasil barteran dengan anthurium miliknya. Serunya, bisnis anthurium memang terbuka bagi siapa saja.

Begitu hebatnya pamor anthurium, belakangan ini lahir importir anthurium dadakan. Sohib Thailand saya di Bangkok lapor bahwa banyak pemilik nursery dari Indonesia yang kedapatan keluyuran ke segala pelosok Negeri Gajah itu untuk berburu anthurium. Wah, kita boleh bangga karena orang Indonesia di Thailand termasuk pembeli anthurium VIP. Artinya, asal ada barang, mereka berani bayar mahal. Jika Thailand kosong, mereka tak sungkan lompat ke Filipina. Pendeknya, jangan sampai pulang dengan tangan hampa. Gengsi, dong.

Yang menarik untuk dicatat banyak pula bakul tanaman yang sebelumnya mengklaim diri sebagai spesialis penjual tanaman hias tertentu kini tanpa malu-malu banting setir jualan anthurium. Banyak Alibaba Orchids mendadak menjadi Alibaba Nursery. Dan, tokoh yang tadinya sering disebut sebagai pakar dan suka diundang berdemo, juri, atau berceramah tentang adenium, aglaonema, atau anggrek, juga sudah mulai berbisnis anthurium baik secara terangterangan atau umpet-umpetan.

Ujung-ujungnya harga anthurium bak indeks harga saham, berloncat-loncatan ke sana kemari. Saban hari selalu ada SMS masuk, menawarkan anthurium, mengabarkan harga biji naik, dan seterusnya. Harga hari ini bisa berbeda dengan harga esok atau kemarin.

Percetakan uang yang legal
Kini, lazim orang nienawar anthurium dengan cuma menyebut merek mobil. Mobil yang paling popuer dijadikan patokan misalnya Avanza, atau Inova dari berbagai tipe, meskipun kadang terkesan gagah-gagahan saja. Batasan end user, konsumen, atau kolektor pun pupus sudah. Pada dasarnya mereka semua kini kepingin jadi investor. Beli satu pot kecil kecambah saja, para pemula sudah bermimpi akan kaya mendadak.

Para maling tentu ingin kaya mendadak juga dong. Akibatnya mereka semakin over acting. Semua tanaman, asal dianggap anthurium, pasti digasak. Bagi maling, rupanya anthurium jenis apa saja dianggap mahal sehingga mereka lebih senang menggondol tanaman ini daripada menggondol Yamaha Mio, misalnya.

Berkah dari maraknya anthurium pun meluap ke mana-mana. Dari penjual pakis yang jadi media tanam utama anthurium, produsen atau penjual pot jumbo, sampai penerbitan dan pengarang buku panduan merawat anthurium. Pendeknya, anthurium membawa berkah bagi semua, termasuk rakyat kebanyakan. Di Jawa Tengah muncul istilah ekonomi kerakyatan. Maksudnya, para juragan atau investor membagi-bagikan benih atau tanaman induk kepada rakyat sekitar melalui sistem plasma. Bisa cuma-cuma, bisa pula dibagi dengan harga murah ketimbang harga pasar. Tujuan sebenarnya supaya maling tidak berkeliaran dan biaya centeng bisa ditekan karena warga bisa berbisnis pula. Tapi, tanpa disadari cara ini membuat ekonomi di kawasan itu bangkit sendiri. Jutaan rupiah menggelontor masuk pedesaan. Muncul kepentingan bersama menjaga stabilitas keamanan sekaligus menjaga pamor tanaman hias daun itu.

Para penguasa daerah yang smart kini rajin bikin pameran sebagai ajang promosi sekaligus marketing anthurium. Hasilnya luar biasa. Wonogiri, yang pernah disebut sebagai daerah minus berhasil mendapat devisa lumayan ketika menyelenggarakan pameran. Banyak orang kaya datang ke sana membelanjakan uangnya. Tak hanya di Jawa, di Samarinda hal yang sama terjadi juga. Ketika mengadakan pameran bulan lalu, Pak Wali dan Pak Camat merasa gembira karena daerahnya mendapat masukan devisa dari daerah-daerah di sekitarnya. Saking bangganya, para pejabat. itu berambisi menjadikan Kota Kayu itu sebagai tujuan wisata agro.

Tak pelak lagi, kita tengah dihanyut mimpi indah bersama anthurium yang kini telanjur dijuluki sebagai si Raja Daun. Sudah muncul anggapan, jika ingin kaya secara instan, berbisnislah anthurium. Sedikitnya jika ingin dianggap kaya, beli dan peliharalah anthurium. Seperti emas dan berlian, anthurium mendadak sontak menjelma menjadi perhiasan sekaligus barang investasi.

Selama enam bulan terakhir ini harga anthurium memang gila-gilaan. Harga bijji anthurium jenmanii, misalnya, bergerak naik secara spektakuler: dari hanya Rp 35.000, Rp 135.000. Kini saat tulisan ini dibuat sudah mencapai Rp 250.000 per biji. Kalau disemai dan jadi kecambah sudah dihargai Rp 300.000. Kalau sudah tumbuh dua daun harganya naik lagi jadi Rp 450.000. Apa artinya? Artinya dahsyat Jika Anda punya satu anthurium bertongkol satu, dengan asumsi si tongkol atau spadix itu memuat 1.000 biji saja, Anda sudah bisa bermimpi menjadi miliarder dadakan, apalagi kalau anthurium Anda bertongkol 5 buah sekaligus. Asyik, bukan? Coba, bisnis macam apa di zaman sekarang yang dalam tempo tidak berapa lama kita bisa meraup untung sedemikian lumayan? Makanya, di Karangpandan, Solo, ada penjual anthurium yang merayu pembelinya dengan menyebut anthurium sebagai percetakan uang tapi pemiliknya tak perlu takut digerebek polisi.

Tapi semua itu cuma teori, Bung!
Demam anthurium wave of love atau gelombang cinta, beberapa pekan lalu, jadi contoh. Selama September harga anthurium berdaun keriting tebal yang populasinya dikenal banyak karena banyak dimiliki rakyat itu tiba-tiba bergolak. Dari harga Rp 5 juta, mencapai harga Rp 90 juta untuk jenis indukannya. Tapi tak sampai sebulan harga itu tahu-tahu merosot tajam. Ada yang menduga, para pemainnya kurang bermain cantik.
Maklum, berbeda dengan pemain jenmanii yang umumnya para cukong, pemain wave of love adalah kelas menengah bawah. Tentu saja mereka sangat rentan terhadap Lebaran, anak-anak sekolah, atau libur akhir tahun. Sadar Lebaran mendekat, biji dan bibitan diobral. Harganya pun kini hancur lebur.

Ada yang cerita –mudah-mudahan hanya kabar burung– di sebuah daerah pinggiran Jakarta, ada orang bunuh diri gara-gara kalah main wave of love. Dia melego dua mobil untuk membeli satu pot anthurium dengan harapan bisa membeli empat mobil, tahu-tahu harga melesak jatuh.

Pertanyaan klise: sampai kapan orang siuman dari mimpinya? Orang yang bermimpi mana tahu, kapan bakal siuman, itu jawabannya. Selamat Bermimpi!

Kurniawan Junaedhie
Praktisi Tanaman Hias
& Pengarang Buku-Buku Anthurium

Tabloid Edisi Khusus Oktober – November 2007

Category: Uncategorized