Monthly Archives: March 2008

Paimo (Paguyuban Ilat Morotuo): Komunitas Sansevieria Tertua di Indonesia

Nama Paimo, mungkin masih asing di telinga kita. Sekalipun Anda penggemar berat sansevieria Tanah Air. Mungkin istilah Jogjakarta Sansevieria Community (JSC) malah lebih ngetren di telinga, meski itu baru digunakan untuk komunitas tersebut. ??Paimo didirikan sekitar 4 tahun yang lalu, berawal dari teman-teman pecinta sansevieria di Jogjakarta.

Intensitas pertemuan yang sering, akhirnya memunculkan gagasan untuk membuat paguyuban yang mewadahi mereka pecinta sansevieria,? kata Ketua Paimo ?? Drs Seta Gunawan. Meski baru 4 tahun, paguyuban yang kepanjangannya Paguyuban Ilat Morotuwo (perkumpulan lidah mertua ?? nama lain dari sansevieria, red) ini terbilang tertua di Indonesia. Sebab, di beberapa daerah, meski sudah banyak bermunculan pecinta sansevieria, tapi belum ada wadah untuk menaunginya. Banyak kisah menarik yang dialami oleh anggota penggagas Paimo pertama.

Sebagai tanaman yang biasa ditanam di pagar, orang sering memandang sebelah mata sansevieria. Tak jarang, pecinta tanaman ini sering jadi olok-olokan, karena melakukan kegiatan yang sepintas tak bermanfaat. ??Dari cerita beberapa rekan dan pengalaman saya, hal itu sering kita alami. Awalnya risih, tapi lama-lama jadi terbiasa. Setidaknya hingga masyarakat sadar akan kecantikan tanaman ini dan akhirnya banyak dicari orang serta sering dikonteskan,? ujar Seta. Lucunya, tak jarang mereka yang awalnya mengolok-olok, kini jadi pelanggan Seta dan anggota Paimo.

Bahkan tak jarang, mereka akhirnya bergabung dengan paguyuban ini, bahkan meninggalkan kecintaan pada tanaman tertentu sebelum mencintai sansevieria. Meski awalnya kegiatan Paimo hanya sebatas kumpul-kumpul antar rekan peinta sansevieria tertentu, dalam perjalannya perkumpulan ini mulai membuka diri, terutama bagi mereka yang ingin tahu segala sesuatu tentang tanaman ??pedang-pedangan?? ini. ??Pada dasarnya paguyuban kita tak pernah aktif mencari anggota. Kita hanya menyediakan pusat informasi bagi masyarakat yang ingin tahu sansevieria. Bagaimana cara budidayanya, bagaimana memperoleh, dan membedakan tanaman ini dengan yang lain,? ungkap Seta.

Selain memberi kesempatan open house bagi pecinta sansevieria di Jogjakarta, paguyuban ini tak ragu untuk terjun menjemput bola. Kegiatan seminar pelatihan dan kontes pun sempat dilator-belakangi oleh paguyuban unik ini. Pola Paimo dalam seminar adalah berbagi ilmu dengan masyarakat. Selain itu, kegiatan ini umumnya juga bertujuan untuk mensosialisasikan sansevieria ke masyarakat awam, sehingga pencintanya pun diharapkan bertambah.

Siap Go Nasional dan jadi Pelopor Ada cerita unik di balik nama Paimo yang disepakati oleh beberapa pendirinya. Sebagai masyarakat Jawa, nama itu mudah dikenal, tapi begitu teman dari luar daerah ingin bergabung dan membuka cabang di tempatnya (terlebih di luar pulau yang tak kenal bahasa Jawa), istilah Paimo sering jadi kendala.

Sebagai paguyuban yang terlebih dulu hadir, Paimo berdiri jadi pelopor gerakan pecinta sansevieria di beberapa daerah di Indonesia. Bahkan di pulau Jawa, keberadaan Paimo dapat apresiasi besar dari masyarakat, dengan selalu mengikut-sertakan mereka dalam kegiatan yang berhubungan dengan sansevieria. Namun rupanya nama Paimo jadi kendala mereka untuk go nasional. ??Pada dasarnya, nama bukan masalah, karena kita masih menggunakan nama Paimo sebagai identitas paguyuban. Hanya nama ini akan digeser di belakang nama Jogjakarta Sansevieria Community,? ujar Seta.

??Nama sansevieria community bisa dipakai sebagai perwakilan cabang di daerah lain. Misalnya, bila di Surabaya jadi Surabaya Sansevieria Community, di Jakarta jadi Jakarta Sansevieria Community, dan sebagainya,? lanjutnya. Dengan itu, diharapkan pecinta sansevieria dari daerah lain bisa bergabung dengan Paimo, terutama bagi mereka yang ingin memajukan tanaman ini di Indonesia. [hyo]

http://tabloidgallery.wordpress.com/2008/02/14/paimo-paguyuban-ilat-morotuo/

Category: Uncategorized