Author Archives: admin

About admin

just simple

Napas Panjang Anthurium

Lonceng kematian anthurium siap berdentang! Peringatan yang terpapar di kolom opini Trubus edisi lalu menjadi topik hangat pemain anthurium. Puluhan telepon, pesan pendek, dan email menjadi saksi perbincangan mereka selama sebulan terakhir. Kalimat itu bagaikan hantu di siang bolong di tengah popularitas anthurium. Benarkah hal tersebut perlu ditakuti?

Sepintas kalimat itu memang menakutkan pencinta anthurium. Namun, bila ditelaah lebih lanjut, peringatan itu mesti dipahami secara positif. Ucapan itu mesti dimaknai sebagai pecut bagi pemain anthurium, untuk membuktikan: anthurium memang layak menjadi tanaman hias bergengsi di masyarakat.

Bagi saya, si raja daun itu memang pantas sebagai tanaman hias bernilai tinggi, terutama Anthurium jenmanii. Sosoknya gagah, berdaun tebal dan keras, serta berkarakter kuat. Semakin bertambah umur dan ukuran, sosok jenmanii kian gagah. Sementara anthurium nonjenmanii kebanyakan berdaun tipis dan lentur. Varian yang muncul dari jenmanii pun jauh lebih beragam dibanding anthurium lain.

Harus diakui tren anthurium yang menggila sejak pertengahan 2006 mulanya dibuat oleh segelintir orang. Namun, perjalanan selama 2 tahun membuktikan, segelintir orang itu tak lagi mampu mengendalikan pasar. Sedikit demi sedikit pasar terbuka karena hadirnya hobiis dan pemain baru yang sebelumnya tak dikenal di jagad tanaman hias Indonesia. Penyebaran mereka meluas hingga Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, dan Papua.

Dengan begitu, demam anthurium tak lagi terkendali. Pasar menjadi terbuka: semiriil dan semisemu. Disebut demikian karena memang permintaan nyata muncul dari hobiis dan pemain baru. Namun, juga semu karena hobiis baru itu bermetamorfosis menjadi pedagang. Jadi, kita memang belum dan tak pernah tahu, siapa ujung dari pasar ini. Secara prinsip, ujung dari pasar tanaman hias yang rill ialah hobiis dan kolektor. Merekalah pencinta anthurium sejati.

Trik bisnis
Prinsip itulah yang mesti disadari pemain anthurium. Di mana pun hobiis dan kolektor selalu menyukai tanaman yang utuh, gagah, mulus, dan kompak. Itu berarti, bila mau bertahan (calon) pekebun dan pedagang mesti memproduksi tanaman dengan kualitas yang diinginkan pencinta anthurium. Niscaya hobiis dan kolektor bakal menyukai. Tidak menutup kemungkinan hobiis dan kolektor baru bakal bermunculan.

Lalu bagaimana dengan fenomena harga anthurium yang melambung tinggi secara tiba-tiba sejak 2 tahun terakhir? Melonjaknya harga terpicu transaksi anthurium yang selalu terjadi dengan harga memukau. Transaksi itu sebagian benar-benar terjadi dan sebagian lagi trik pasar alias tidak terjadi. Namun, sebetulnya trik pasar itu tak hanya terjadi pada anthurium, tapi juga bisnis lain. Jadi siapa pun yang terjun pada dunia bisnis mesti bersiap menghadapi trik bisnis.

Sepanjang transaksi berlangsung suka sama suka, maka itu sah-sah saja. Saya melihat di sinilah uniknya bisnis anthurium. Banyak sekali transaksi yang nilainya ditentukan pembeli, bukan penjual. Tentu ini berbeda dengan aglaonema-kerabat terdekat anthurium yang juga berharga fenomenal. Pada kasus aglaonema, penjual yang menentukan harga, pembeli yang menilai kelayakan sesuai dengan kemampuan kantong. Artinya, pembeli memang suka terhadap barang itu.

Minimalkan risiko
Itulah potret bisnis anthurium. Harga yang melambung tinggi membuat banyak orang tertarik berinvestasi. Dari orang kecil, menengah, hingga kelas atas. Menurut pendapat saya, pemain anthurium yang mendengung-dengungkan keuntungan berinvestasi di anthurium seyogyanya mempunyai tanggung jawab moral untuk membantu para investor baru itu. Mereka mesti bersedia membeli produk pekebun-terutama yang berekonomi lemah yang telanjur berinvestasi di anthurium.

Namun, pengalaman-pengalaman lalu menunjukkan karakter pemain tanaman hias tanahair kebanyakan inkonsistensi alias kutu loncat. Mereka beralih ke produk lain yang menguntungkan kala produk yang digeluti tak lagi mendatangkan laba. Para investor pun mesti arif menyikapi informasi yang menyebutkan investasi anthurium bakal cerah karena ada peluang ekspor. Perniagaan ekspor hanya terjadi bila harga jual produk di sebuah negara lebih kompetitif dibanding produk serupa di luar negeri. Saat ini, harga anthurium di Indonesia paling tinggi di dunia. Maka, ekspor tak akan mungkin terjadi secara besar-besaran.

Namun, dalam dunia bisnis ada istilah jangan lewatkan peluang sekecil apa pun. Begitu juga dengan bisnis anthurium. Selama memang ada permintaan, maka silakan penuhi dengan pasokan. Maksud saya, bisnis anthurium bisa dijalankan asal para pemain sadar akan risiko. Supaya bisnis aman, intinya minimalkan risiko, terutama untuk kalangan kecil. Mereka bisa bermain dengan perputaran bisnis jangka pendek. Misal, dengan modal tanaman seharga Rp100-ribu, mereka segera lepas dengan laba tak terlalu tinggi, misal menjadi Rp125-ribu. Harga jutaan rupiah memang menggiurkan, tapi itu hanya aman dimainkan bila investor sudah memahami karakter pasar. Sebaiknya mereka, para investor baru, pun tidak tinggalkan profesi awal. Anthurium hanya sebagai sumber pendapatan tambahan.

Memahami risiko bisnis juga penting bagi para investor kelas menengah yang membenamkan modal lebih besar. Dalam bisnis, selalu ada untung dan rugi. Namun, kekecewaan akan kerugian bakal sedikit terobati bila kita memang mencintai anthurium. Terlepas dari itu semua, menurut saya, lonceng kematian anthurium belum siap berdentang, setidaknya dalam 2 tahun ke depan. Si raja daun itu mudah diperbanyak dan disilangkan oleh banyak orang. Bahkan oleh mereka yang tak mengerti ilmu genetika. Itu sebuah peluang, anthurium bakal tetap disukai banyak orang. Anthurium masih bernapas panjang.***

*) Ir Sugiono Budhiprawira, pemain anthurium di Bogor, kolektor sejak 1980-an

http://www.trubus-online.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=7&artid=67

Category: Uncategorized

Teknik Silangkan Anthurium: Agar Lahir Jenis Jenmanii Hibrid

tanaman hiasBagi Anda yang gemar berburu anthurium, seberapa banyak uang yang disiapkan untuk berburu tanaman langka, itu tak jadi masalah. Tak hanya harga yang terkadang tak masuk akal, tapi yang penting adalah apakah Anda siap menghamburkan waktu luang untuk keluar-masuk kota atau desa. Pasalnya, anthurium jenis baru sering keluar dalam hitungan minggu dari beberapa kota dan desa. Jika kita menyimak, beberapa pemberitaan di media cetak tanaman hias, jenis anthurium hibrid saat ini sering keluar dan harga yang ditawarkan pun membuat bulu kuduk merinding.

Itu tak perlu membuat Anda pusing, karena pada dasarnya proses penyilangan anthurium bisa dilakukan dan sifatnya tanaman hiasgampang-gampang susah. Meski terlihat mudah, langkah yang tepat bisa berakhir fatal, yaitu bisa berupa matinya tongkol. Namun, teknik penyilangan ini juga sering berhasil, meski dilakukan orang awam. Anda pun bisa melakukan proses penyilangan sendiri. Mau tahu caranya?

Berikut langkah yang bisa Anda lakukan untuk menyilangkan anthurium kesayangan:

1. Siapkan dua indukan yang siap dikawin. Umumnya sebelum dilakukan persilangan, indukan sudah dicek, apa sudah keluar madu atau serbuk sarinya.
tanaman hias2. Bersihkan tongkol yang akan disilangkan. Tongkol yang umumnya tak memiliki serbuk sari disterilisasi dengan menggunakan kuas. Lakukan hal ini sampai beberapa menit.

3. Sama dengan proses sterilisasi, lakukan penguasan pada tongkol yang sudah mengeluarkan serbuk sari. Dalam proses ini, tampung serbuk sari yang jatuh dari proses ini dengan media semacam kertas dan sebagainya.

4. Kemudian proses penyerbukan dilakukan secara manual. Caranya, serbuk sari yang sudah jatuh di kertas tempelkan pada tongkol lain dengan cara dikuas. Lakukan hingga serbuk sari habis.

5. Langkah terakhir adalah menutup tongkol yang sudah disilangkan dengan plastik. Tujuannya, agar kondisi tongkol steril dan proses pembuahan berjalan sempurna.

Proses penyilangan tersebut harus dilakukan dengan benar dan diperhitungkan. Pasalnya, jika proses dilakukan salah, maka tongkol bisa saja mogok berbuah atau bahkan bisa mati. Namun untuk gagal atau matinya tongkol silangan terjadi sangat minim. Dalam prosentase kegagagalan terjadi sekitar 5 sampai 20 %.

tanaman hiasBerani Main Indukan
AB Suroto, Pebisnis dan Kolektor Anthurium di Desa Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, Jateng, mengatakan kunci keberhasilan menciptakan jenis baru adalah berani bermain indukan. Artinya, dalam proses budidaya, uji coba itu penting demi mendapatkan ukuran yang pas.

Dalam nurserinya yang bercampur dengan bengkel ini, ia memiliki lebih dari 5 indukan. Ia punya jenmanii naga, jenmanii golden, jenmanii black, jenmanii 7 arah mata angin, dan masih banyak lagi. Bukannya ingin melengkapi koleksi, baginya kehadiran indukan itu merupakan mesin untuk mencetak jenis baru.

Selama ini, ia memang lebih berpikir konservatif, yaitu lebih mementingkan proses budidaya daripada bisnis. Baginya, melihat jenis baru buah ciptaannya adalah pengalaman yang sangat bernilai dan tak ada duanya. Pola pikir Suroto pun ternyata ada hasilnya. Sejak tahun 2003, dengan bermodal awal Rp 250 juta, kini omzet dan sejumlah koleksinya berharga lebih dari milyaran rupiah. Memang ia mengaku, awalnya harus menjual barang sana dan sini untuk membeli indukan.

Rumus Silangkan Anthurium Jenmanii

ntuk mendapatkan anakan yang berkualitas dan dijamin unik, maka cobalah trik yang biasa digunakan Suroto untuk berproduksi anthurium jenis baru. Sempat mengalami kegagalan, akhrinya ia pun berhasil menemukan sejumlah rumus yang sering ia gunakan. Berikut rumus yang sering dipakai:

tanaman hias* Black Jenmanii dengan Jenmanii Oval (jenmanii oval hibrid, black jenmanii hibrid, red jenmanii hibrid, dan sebagainya).
* Black Jenmannii dengan Red Jenmanii (jenmanii oval hibrid, jenmanii red soliter hibrid, jenmanii jaipong, jenmanii jaipong hibrid, dan sebagainya).
* Jenmanii Dragon dengan Black Jenmanii (jenmanii oval hibrid, jenmanii red soliter hibrid, jenmanii jaipong, jenmanii jaipong hibrid, dan sebagainya).
* Jenmanii dan Gelombang Cinta (gelombang cinta giant, gelombang cinta brasilian).
* Black Jenmanii dan Jaipong (jenmanii oval hibrid, black jenmanii hibrid, red jenmanii hibrid, jenmanii 7 arah mata angin, dan sebagainya).
* Keris dan Gelombang Cinta (Kristi dan Gelombang Cinta Giant).
Dalam proses penyilangan tersebut, kegagalan perkembangan atau matinya bibit sudah biasa. Umumnya sekitar 5 sampai 10 osea atau bibit mengalami kematian. Hal itu wajar terjadi. Namun di balik itu, proses penyilangan terkadang dapat menghasilkan produk baru. Untuk itulah, bersiaplah menerima kejutan jika bibit yang Anda budidaya ternyata menghasilkan jenis atau varian baru anthurium. Maka, jangan takut ber-eksperimen dan bersiaplah memberi nama yang sesuai atau nama Anda barangkali? Selamat mencoba. [adi]

http://tabloidgallery.wordpress.com/2007/11/15/teknik-silangkan-anthurium/#more-87

Category: Uncategorized

Rhenald Kasali PhD: Siapa Konsumen Akhir?

Rumah di ujung jalan itu terlihat asri. Caladium dan anthurium bunga tertata rapi di halaman depan rumah. Kesejukan menyambut saat menjejakkan kaki di rumah di Pondokgede, Bekasi, itu.

‘Mari ikut saya,’ ujar Rhenald Kasali PhD, sang pemilik rumah. Pakar pemasaran ternama itu mengajak ke halaman belakang. Tanaman ini ya yang sedang ngetren, ujarnya setengah bertanya seraya menunjuk anthurium wave of love setinggi 1,5 m. Semula gelombang cinta itu diletakkan di halaman depan, tetapi karena banyak orang mengincar, Rhenald memindahkannya ke belakang.

Gelombang cinta itu dipelihara sejak 5 tahun silam. Harganya ketika itu Rp75.000. Ketua Program Magister Manajemen Universitas Indonesia itu tak menyangka anthurium kini populer di tengah masyarakat. Harga Anthurium jenmanii menembus angka hingga ratusan juta rupiah. Di Karanganyar, Jawa Tengah, salah satu sentra, perputaran uang di satu pekebun mencapai Rp30-juta per hari.

Popularitas anthurium pun turut mendongkrak harga biji hingga mencapai ratusan ribu rupiah. Harga tanaman induk dinilai dari jumlah tongkol yang menggendong biji. Pendek kata, banyak pebisnis anthurium mendadak bergelimang rupiah. Keuntungan menggiurkan mendorong orang-orang membenamkan modal.

Kepada Imam Wiguna, wartawan Trubus, Rhenald Kasali memaparkan pandangannya tentang bisnis anthurium dari kacamata pemasaran. Berikut petikan wawancara pada 17 November 2007.

Apa yang memicu fenomena anthurium seperti sekarang?

Sekarang ini kita memasuki era the dream society. Pada era seperti itu, masyarakat membeli sesuatu karena cerita di balik produk itu. Jadi, apa pun produknya kalau bisa dibikin cerita dan itu menjadi histeria massa, maka menjadi suatu yang populer.

Dalam pemasaran, ada yang disebut pop marketing. Fenomena pop marketing seperti kasus Inul Daratista. Popularitasnya mencuat setelah ditekan raja dangdut sehingga orang-orang bersimpati. Pamornya menjadi naik, tapi kemudian hilang. Fenomena itu cuma sesaat. Jadi bukan karena Inul nyanyinya bagus, tetapi karena cerita tentang dirinya yang menarik. Cerita bahwa Inul teraniaya, orang bersimpati, goyangnya ngebor, dan punya keistemewaan tertentu yang berbeda dengan yang lain. Kalau cerita itu bisa diperoleh, akan menjadi hit. Tapi umurnya ada yang panjang, ada juga yang pendek.

Adakah contoh yang berumur panjang?

Yang berumur panjang biasanya pariwisata, karena memang dipelihara. Misalnya Danau Loch Ree di Irlandia Utara, yang dipercaya dihuni monster. Padahal itu hanya gejala alam. Yang seperti itu umurnya panjang, selama bisa melestarikan gejala alam itu. Contoh lain, cerita tentang batu gantung di Danau Toba.

Bagaimana dengan anthurium?

Pada tanaman atau pun ikan hias, biasanya umurnya pendek. Yang agak panjang umurnya barangkali ikan arwana karena sulit membudidayakannya. Kalau mudah, juga akan cepat hilang.

Fenomena anthurium juga disebabkan cerita yang dibuat seputar tanaman hias itu. Dalam hal ini media punya peranan karena memotret kondisi masyarakat dan histeria orang-orang terhadap tanaman itu. Begitu juga pameran-pameran tanaman hias yang sekarang ini selalu ramai pengunjung.

Adakah komoditas lain yang mengalami fenomena seperti itu?

Masih ingat soal cacing? Itu juga kan cuma sebentar. Komoditas pertanian kalau kelebihan pasokan, harga jatuh. Apalagi kalau dia mudah dibudidayakan dan diperbanyak. Menurut pengalaman saya, anthurium itu mudah. Cuma perlu waktu saja. Saya sudah 5 tahun pelihara anthurium. Bertahun-tahun saya simpan di depan ngga ada yang melirik. Dulu saya beli cuma Rp75.000. Saya lihat memang bagus. Saya suka tanaman yang tidak dimiliki orang banyak.

Pada kasus cacing masalahnya adalah tidak ada end user. Saya takut anthurium juga begitu. Waktu itu saya beli bukan karena mahal, tetapi karena lagi murah. Harga Rp75.000 waktu itu masih cukup mahal. Dengan harga Rp20-juta-Rp200-juta, saya curiga tidak ada end user-nya.

Pada saat cacing sedang ramai dulu, saya pernah tanya seorang peternak, buat apa? Katanya bagus buat kosmetik. Ternyata ketika saya telusuri, pasar yang benar-benar untuk kosmetik itu tidak pernah ditemukan. Saya khawatir pada anthurium juga terjadi pasar imajiner. Orang beli tanaman hanya untuk dijual lagi dengan harga lebih tinggi. Jadi pasarnya pedagang kan? Bukan konsumen?

Produk yang pasaran, harganya pasti tidak akan tinggi. Contoh mobil Toyota. Begitu Toyota Kijang semua orang bisa beli, harganya sekitar Rp100- juta- Rp250-juta. Ia ngga bisa dijual dengan harga Rp500-juta. Harga setinggi itu sudah masuk kelas mewah seperti Crown, Lexus, BMW, Volvo, Audi, dan jumlahnya sedikit.

Masyarakat memandang anthurium dan tanaman hias lain sebagai peluang usaha. Apakah dengan fenomena seperti itu, tanaman hias merupakan lahan investasi yang baik?

Tanaman hias merupakan komoditas yang sudah menjadi kebutuhan. Popularitas aglaonema atau anthurium adalah perkembangan baik. Lonjakan yang di-push menjadi letupan-letupan menunjukkan bahwa tanaman hias menjadi industri yang dibutuhkan masyarakat. Nah, kalau untuk investasi, tergantung bidang usaha yang akan digeluti. Apakah mau jadi pembudidaya, pedagang kecil, pengumpul, atau membuka pelatihan? Orang harus memilih menjadi pelaku usaha yang mana. Kecuali Anda memiliki reputasi tertentu sehingga orang datang dengan sendirinya untuk membeli tanaman.

Menurut Anda, bidang usaha apa yang paling menguntungkan?

Dalam hal ini yang menguntungkan adalah menjadi pedagang. Sebab, ia hanya menentukan harga beli dan harga jual. Pedagang itu bisa mengendus pasar. Kalau terjun di budidaya, seringkali tidak menguasai informasi pasar. Ia hanya tahu hubungannya dengan pedagang. Petani kadang-kadang tidak tahu informasi pasar yang benar sehingga mudah tertipu. Begitu harga tinggi, baru membudidayakan. Padahal rumus pengusaha, beli di saat murah, jual ketika harga tinggi.

Terkadang petani bertindak sebaliknya, membeli di saat harga tinggi karena ada histeria massa. Begitu menjual harga sudah turun. Saya dengar dari rekan yang bermain tanaman, ada importir yang mendatangkan anthurium secara besar-besaran dari Thailand dan menjualnya dengan harga murah. Akibatnya, harga anthurium di tanahair jatuh. Pada kondisi seperti ini, siapa yang untung? Pedagang kan?

Kalau jadi petani, jangan hanya memasok ke toko-toko. Dalam bisnis di dream society, jangan cari uang, tapi bangunlah brand image (citra merek, red). Jika image tertanam, ia akan menjadi pencipta isu, momentum, dan sumber berita. Semua orang akan bertanya ke dia karena ia telah menjadi pakar. Berapa pun produk yang ia jual akan dibeli orang. Tapi kalau jadi follower, tidak bisa seperti itu.

Bagaimana mempertahankan bisnis yang berdasarkan tren?

Ini kan fenomena pop marketing. Kalau fenomena pemasaran yang biasa, suatu produk melalui siklus produk yang panjang. Pada pop marketing, dalam siklusnya terdapat gejolak-gejolak. Trennya sangat pendek, cuma 2-3 tahun. Suatu produk yang terlalu dipacu agar cepat melejit di pasaran, akan cepat hilang juga. Untuk mempertahankannya cukup sulit.

Yang bisa dilakukan adalah mengambil keuntungan sesaat. Selalu membeli pada saat harga akan naik. Begitu menjadi berita besar, lepas semua produk dan beralih ke komoditas lain. Ikuti saja tren. Jika ingin aman, main di produk yang abadi. Yang abadi itu harganya murah, konstan, tetapi yang beli ada terus.

Apakah harus selalu menghadirkan yang terbaru untuk melanggengkan tren?

Masalahnya satu orang pemain tidak dapat mendikte pasar. Harus ada konsensus dalam pasar. Konsensus dibentuk oleh berbagai hal. Misalnya namanya antik apa tidak. Contoh, kenapa wave of love berkembang? Karena kata wave of love itu menarik. Nama aslinya kan anthurium. Tetapi begitu diganti gelombang cinta karena daunnya bergelombang, lalu menjadi wave of love, orang menjadi wah?! Bisa menjadi cerita.

Jadi dengan memberikan nama yang khas, pemiliknya hanya sedikit, dan media mempublikasikannya, timbullah histeria massa. Lalu orang tertarik untuk berinvestasi. Terjadilah kejutan. Kalau ada komoditas yang seperti itu, bisa. Tapi lagi-lagi masuklah ketika harga masih rendah. Begitu mencapai puncak, segera lepas produk karena masa puncak tidak datang 2 kali. Begitulah pop marketing.

Bila dibandingkan dengan pasar modal, mana yang lebih berisiko?

Pasar modal itu berbeda. Para pelaku pasar modal dapat memantau pasar setiap saat. Pagi ia membeli saham, sore mungkin bisa dijual kembali. Pergerakan harga setiap waktu dapat dipantau. Mereka juga dilindungi oleh undang-undang, lembaga pengawas seperti Bapepam. Anthurium? Kondisinya sebaliknya. Oleh sebab itulah pasar anthurium tidak bisa dikendalikan. Aksi-aksi kecurangan tidak dibatasi undang-undang. Pada prinsipnya, setiap bisnis yang menjanjikan keuntungan besar, juga berisiko besar. Begitu juga anthurium, jadi harus hati-hati.

http://www.trubus-online.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=1&artid=134

Category: Uncategorized

Pasar Aglaonema di Jabodetabek: Harga Seimbang untuk Lokal dan Impor

Tak susah jika Anda hendak mencari tanaman hias, khususnya di daerah Jabodetabek. Ada banyak sentra tanaman hias di kawasan ini. Salah satunya di Sawangan Depok, Jabar. Aneka tanaman hias, baik yang biasa digunakan untuk keperluan dekoratif sampai koleksi ada di sini. Salah satu dari kesekian koleksi yang paling populer adalah aglaonema. Keindahan warna warni daun yang ada, membuat pasar tanaman ini relatif stabil, mulai dari perputaran barang hingga harga yang ditawarkan.

Hj Nanik, pedagang yang memiliki nurseri yang menyediakan aneka aglaonema di Sawangan, mengatakan untuk jual-beli tanaman hias jenis aglaonema, transaksi terjadi setiap hari. Barang yang unik dan harga yang terjangkau, membuat kian banyak orang yang mengoleksi tanaman jenis ini. Terlebih jika ada varian baru, dipastikan pasar tanaman ini tak pernah sepi pembeli.

Masalah harga, di kawasan ini memang memiliki standar sendiri. Untuk jenis Donna Carmen misalnya, di sini tanaman dengan keindahan warna merah jambunya ini dipatok harga Rp 200 ribu. Biasanya kualitas tanaman dan besar-kecil ukurannya, membuat harga jadi berbeda.

??Selebihnya, harga di sini (Sawangan, red) hampir semua sama,? tandas wanita asli Betawi ini.

Selain itu, beberapa koleksi aglaonema ekslusif juga tersedia di nurseri yang memiliki luas beberapa hektar ini. Biasanya orang yang menyukai jenis Donna Carmen adalah kolektor. Pasalnya, harga yang ditawarkan biasanya tidak murah. Dalam beberapa kasus, untuk jenis aglaonema ekslusif, harga biasa dipatok dengan menghitung daun yang ada. Meski beberapa display dihiasi aneka aglaonema impor, di nurseri milik Nanik juga dihiasi beberapa aglaonema lokal.

??Aglaonema lokal masih banyak dicari, seperti jenis Pride of Sumatera atau Beras Tumpah,? imbuh Nanik.

Lokal Tak Kalah dengan Impor

Sementara Wawan Romadoni, pedagang tanaman hias di Jl. Padjajaran Bogor, mengatakan berbeda dengan anthurium yang makin tebal daunnya, maka makin bagus kualitasnya. Untuk beberapa jenis aglaonema, tipis dan berseratnya daun sering jadi salah satu faktor untuk jadi varian berkualitas. Umumnya, beberapa varian dari Thailand sering memiliki sifat demikian. Lalu, bagaimana dengan jenis lokal?

Beruntunglah bagi varian lokal. Pasalnya meski kalah dalam jumlah jenis, beberapa aglaonema budidaya anak bangsa, sudah banyak yang memiliki sifat ini, paling tidak itu dimiliki jenis Pride of Sumatera. Sempat jadi kiblat aglaonema berwarna merah pertama, jenis ini memiliki daun yang halus dan lentik. Selain itu untuk jenis yang satu ini, warna yang muncul juga tidak mengecewakan. Umumnya, daun yang tipis selalu disertai dengan pudarnya klorofil, sehingga warna terlihat pudar dan tidak maksimal. Budi daya yang tak terlalu sulit untuk jenis ini (bagi petani aglaonema), membuat jenis lokalan (sebutan untuk tanaman hias produksi lokal) ini jadi raja di rumah sendiri.

??Biasanya selain membudidaya sendiri tanaman ini, saya biasanya ambil didaerah Ciapus Bogor sampai Jakarta. Banyaknya pengadaan varian, membuat saya tak kelabakan, meski permintaan akan jenis ini makin meningkat,? ujar Wawan. [hyo]

http://tabloidgallery.wordpress.com/2007/11/25/pasar-aglaonema-di-jabodetabek/#more-94

Category: Uncategorized

ONE KRISNATA: Punya Obsesi Produksi Biji Unggulan

One KrisnataMimpinya sangat sederhana. Suatu saat para pecinta adenium tak perlu lagi mengimpor biji adenium.

SELAMA INI PARA PELAKU HOBI DAN BISNIS ADENIUM MEMANG MENGANDALKAN BIJI ASAL THAILAND DAN TAIWAN. Boleh dibilang, belum ada petani adenium dalam negeri yang benar-benar konsentrasi memproduksi biji secara massal dan kontinyu.

Fenomena itu menumbuhkan ide buat One Krisnata, pecinta adenium di Ciledug, Tangerang, untuk merintis produksi aneka biji.

“Produksi massal biji adenium sebenarnya mudah. Cukup menyambung entres adenium yang mau diproduksi dengan batang bawah adenium obesum yang sudah cukup umur,” terang pria yang juga wakil ketua Yayasan Pendidikan Budi Luhur. Metode seperti ini pula yang diterapkan produsen biji di Thailand.

KILIK BUNGA

Ia punya target tiga tahun berselang, mother plant yang disiapkannya bisa berproduksi optimal dan diketahui hasil akhir pohon semaian. “Enggak masalah harus menunggu sampai tiga tahun, karena saya bisa terus menikmatinya,” ungkap suami Riana Krisnata.

Soal perawatan dan mengawinkan untuk menghasilkan biji adenium, Krisnata terbilang fasih. Lebih dari seratus seed pot muncul dari adenium “cabang seribu” miliknya. Meskipun harus menggendong seratusan tanduk berisi biji, dengan perawatan intensif si cabang seribu tetap prima kondisinya.One Krisnata

Banyaknya tanduk menunjukkan betapa telaten pria lulusan United States International University, San Diego, Amerika Serikat ini mempertemukan benang sari dengan putik. Bunga adenium memang harus dibantu kawin secara manual (hand pollination) untuk memastikan terjadi pembuahan.

KOLEKSI UNIK

“Saya sebenarnya termasuk pemain baru. Belum sampai setahun saya punya hobi adenium,” aku Krisnata. namun koleksinya terbilang cukup banyak dan komplit untuk ukuran pemain baru. Mulai dari obesum gaya bonsai, cabang seribu, arabicum, RCN, thai soco, sampai adenium berbonggol emas.

“Saya kurang tertarik dengan bunga. Salah satu alasannya, karena tren bunga terlalu cepat berganti. Semisal kita beli bunga baru yang lagi tren sekarang, tiga bulan lagi mungkin sudah out of date,” ungkapnya.

Berbagai adenium superunik masuk daftar koleksi Krisnata. Sebut saja arabicum bunga putih didapatnya dari Taiwan. Cukup banyak adenium variegata dan kristata lain. Termasuk adenium compacta kristata yang barangkali belum ada duanya. “Sebenarnya arabicum model Yaman adalah favorit saya. Caudex atau bonggolnya yang besar sangat enak dipandang,” lanjut Krisnata.

Bonggol emas juga jadi koleksi favorit pria asal Klaten, Jawa Tengah. Saking demennya, ia menyimpan sampai 16 pohon bonggol emas. Ditambah empat pohon adenium yellow full yang seluruh batangnya berkelir kuning. “Bagi para pemula, saya sarankan berhati-hati membeli bonggol kuning. Sebaiknya bertanya kepada pemain atau teman yang sudah ngerti,” anjurnya.

Sikap waspada memang selalu diperlukan! *

TEKS: RUDI / FOTO: ROHEDI

Flona Edisi 5/IV Januari 2008

Category: Uncategorized