Posted in Berita

Ketika Niatan Mencari Uang, Justru Berujung Dimintai Uang

Ketika Niatan Mencari Uang, Justru Berujung Dimintai Uang Posted on November 9, 2017Leave a comment

Suatu hari ada pembukaan tenaga kerja di suatu perusahaan besar. Aku tertarik untuk memasukkan lamaran di sana. Teman-temanku yang belum bekerja juga ramai memasukkan lamaran bekerja di sana. Tak terkecuali dengan gadis teristimewa yang bersamaku semasa kuliah bahkan sampai sekarang aku masih bersamanya. Winda.

Ya, dia juga nyatanya turut memasukkan lamaran kesana. Bahkan juga saya serta dia bersamaan memasukkan lamaran di perusahaan itu.

Winda. Yah, dia gadis paling baik yang sempat saya punyai. Bahkan juga, sangat baik untukku. Ia begitu sayang serta hormat kepadaku. Ketakutannya yaitu bila ia tampak jelek di depanku. Walau sebenarnya saya tidak sempat mempersoalkan penampilannya karna ia senantiasa tampak modis.

*****

Telah nyaris satu bulan, tetapi tak ada juga panggilan untuk tes serta wawancara datang. Saya punya niat berkunjung ke serta bertanya mengenai kejelasan lowongan itu.

Saya naik menuju lantai tiga ke sisi HRD-nya. Langkahku berhenti saat lihat sebagian dari beberapa pendaftar yang berbarengan mendaftar denganku tempo hari, telah tampak repot bekerja. Ada yang buat mataku lebih terpaku serta memandang lekat pada kerumunan pegawai yang tengah bekerja. Diantara mereka tampak Winda juga tengah sibuk-sibuknya bekerja.

Terdapat banyak pertanyaan yang menginginkan saya tanyakanlah kepadanya waktu itu juga. Walau demikian, kelihatannya tidak etis bila saya mengganggu orang yang tengah bekerja.

Saya urungkan niatku, tambah baik saya ajak dia berjumpa kelak sore lantas saya juga akan tanyakanlah tentang ini. “Mengapa ia tidak sempat menceritakan kepadaku? Ia telah lama bekerja atau baru-baru? ” semuanya pertanyaan itu menumpuk di kepalaku.

Saya teruskan langkah kaki ini menuju sisi HRD untuk bertanya tentang lamaranku.

“Ada yang dapat saya bantu? ” sapa pegawai lembut.

“Saya menginginkan bertanya tentang lamaran yang saya masukan tempo hari berkaitan dengan lowongan di perusahaan ini. Berdasar pada info yang berada di papan info saat pendaftaran. Pemanggilan untuk tes serta wawancara juga akan selekasnya dikerjakan paling lambat dua minggu sesudah batas akhir penerimaan lamaran.

Saat ini telah nyaris ingin satu bulan dari batas akhir penerimaan lamaran tetapi belumlah ada juga pemanggilan untuk tes serta wawancara. Mohon keterangan atau infonya. ”

“Baik berkaitan dengan pemanggilan untuk tes beberapa pelamar juga akan kita hubungi lewat telepon. Ada sebagian orang yang sudah kami panggil serta saat ini telah bekerja disini. Mungkin saja dengan serentaknya juga akan kami hubungi kembali. ”

Saya tidak dapat melakukan perbuatan apa-apa. Saya pulang dengan muka tertunduk. Mencari perkerjaan bebrapa waktu ini, memanglah sulit.

Malamnya saya berjumpa dengan Winda, pacarku. Saya segera saja mencari tahu, kenapa ia tidak memberitahu berita senang kalau ia telah bekerja.

“Apa kau telah di terima bekerja? ”

“Bekerja, di mana? ” tanyanya balik.

“Di perusahaan X. Kenapa kau tidak sempat berikan tahuku? Apa kita ingin main sembunyi-sembunyian? ”

“Iya saya telah bekerja, ” katanya mengaku. “Habisnya, kau tidak sempat ajukan pertanyaan. ” Ia sedikit tampak murung saat merasakan rautku yang beralih pitam.

Saya ajukan pertanyaan, “Mengapa hingga dapat di terima beberapa gitu? ” Saya ajukan pertanyaan demikian karna saya terasa perusahaan itu tidak adil. Bahkan juga untuk di panggil tes saja belum juga, sedang di bagian beda saya lihat terdapat banyak pelamar yang telah bekerja.

Winda tidak keluarkan kata, berwajah muram menunduk. Ia menjawab dengan menggelengkan kepalanya, yang mengartikan kalau ia tidak paham.

Tapi saya tidak percaya kalau Winda tidak ketahui kenapa hal itu bis berlangsung. Saya bertanya kembali. “Kenapa Win, saya perlu bantuanmu. Agar saya tidaklah terlalu mengharapkan dengan perusahaan itu. ”

“Mungkin ada penutupan untuk beberapa, ” pada akhirnya ia menjawab.

“Oh…, apakah itu mengartikan kalau kalimat si pegawai HRD cuma keinginan palsu saja. ”

“Aku tidak paham, ” rengeknya kebingungan.

“Tolong, Win… katakan apa yang sesungguhnya berlangsung. ”

“Sebenarnya, saya memberi uang serta hadiah pada satu diantara tim perekrutan bersama istri serta anaknya. ”

“Jadi… demikian, ” keluhku saat mengerti semuanya yang berlangsung.

Saya tidak memiliki uang untuk lakukan praktek KKN (Korupsi Kolusi & Nepotisme) serta saya tidak ingin mensupport aksi kotor itu. Saat ini, saya cuma menginginkan jalan serta selalu berupaya mencari pekerjaan lewat cara yang baik serta benar, sesuai sama jalan yang diridhoi-Nya.

*****

Baca Juga: Contoh Surat Mutasi

Dunia sogok menyogok sering berlangsung didunia kerja. Beberapa pencari kerja yang sedianya memerlukan uang, jadi mesti memberi beberapa uang pada oknum-oknum yg tidak bertanggungjawab.

Hal semacam ini karena karna tingginya angka beberapa pencari kerja di dalam sempitnya lapangan pekerjaan. Oleh karenanya, diperlukan beberapa entrepreneurs muda yang yang perlu digerakkan pemerintah lewat beragam kebijakan yang dapat mensupport beberapa entrepreneur, terutama entrepreneur yang baru-baru atau usaha-usaha kecil serta menengah (UKM).

Say no to ‘sogok menyogok’. Jadilah orang-orang yang cerdas serta berjiwa entrepreneurship.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *