| ONE KRISNATA: Punya Obsesi Produksi Biji Unggulan |
|
|
| Written by Administrator | |||||||||
| Thursday, 03 January 2008 16:37 | |||||||||
|
SELAMA INI PARA PELAKU HOBI DAN BISNIS ADENIUM MEMANG MENGANDALKAN BIJI ASAL THAILAND DAN TAIWAN. Boleh dibilang, belum ada petani adenium dalam negeri yang benar-benar konsentrasi memproduksi biji secara massal dan kontinyu.
Fenomena itu menumbuhkan ide buat One Krisnata, pecinta adenium di Ciledug, Tangerang, untuk merintis produksi aneka biji. "Produksi massal biji adenium sebenarnya mudah. Cukup menyambung entres adenium yang mau diproduksi dengan batang bawah adenium obesum yang sudah cukup umur," terang pria yang juga wakil ketua Yayasan Pendidikan Budi Luhur. Metode seperti ini pula yang diterapkan produsen biji di Thailand.
KILIK BUNGA
Soal perawatan dan mengawinkan untuk menghasilkan biji adenium, Krisnata terbilang fasih. Lebih dari seratus seed pot muncul dari adenium "cabang seribu" miliknya. Meskipun harus menggendong seratusan tanduk berisi biji, dengan perawatan intensif si cabang seribu tetap prima kondisinya.
KOLEKSI UNIK
Berbagai adenium superunik masuk daftar koleksi Krisnata. Sebut saja arabicum bunga putih didapatnya dari Taiwan. Cukup banyak adenium variegata dan kristata lain. Termasuk adenium compacta kristata yang barangkali belum ada duanya. "Sebenarnya arabicum model Yaman adalah favorit saya. Caudex atau bonggolnya yang besar sangat enak dipandang," lanjut Krisnata.
Bonggol emas juga jadi koleksi favorit pria asal Klaten, Jawa Tengah. Saking demennya, ia menyimpan sampai 16 pohon bonggol emas. Ditambah empat pohon adenium yellow full yang seluruh batangnya berkelir kuning. "Bagi para pemula, saya sarankan berhati-hati membeli bonggol kuning. Sebaiknya bertanya kepada pemain atau teman yang sudah ngerti," anjurnya.
Sikap waspada memang selalu diperlukan! *
TEKS: RUDI / FOTO: ROHEDI Flona Edisi 5/IV Januari 2008
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
|