Rhenald Kasali PhD: Siapa Konsumen Akhir?

Share on TwitterDigg ThisShare via email

Rumah di ujung jalan itu terlihat asri. Caladium dan anthurium bunga tertata rapi di halaman depan rumah. Kesejukan menyambut saat menjejakkan kaki di rumah di Pondokgede, Bekasi, itu.

‘Mari ikut saya,’ ujar Rhenald Kasali PhD, sang pemilik rumah. Pakar pemasaran ternama itu mengajak ke halaman belakang. Tanaman ini ya yang sedang ngetren, ujarnya setengah bertanya seraya menunjuk anthurium wave of love setinggi 1,5 m. Semula gelombang cinta itu diletakkan di halaman depan, tetapi karena banyak orang mengincar, Rhenald memindahkannya ke belakang.

Gelombang cinta itu dipelihara sejak 5 tahun silam. Harganya ketika itu Rp75.000. Ketua Program Magister Manajemen Universitas Indonesia itu tak menyangka anthurium kini populer di tengah masyarakat. Harga Anthurium jenmanii menembus angka hingga ratusan juta rupiah. Di Karanganyar, Jawa Tengah, salah satu sentra, perputaran uang di satu pekebun mencapai Rp30-juta per hari.

Popularitas anthurium pun turut mendongkrak harga biji hingga mencapai ratusan ribu rupiah. Harga tanaman induk dinilai dari jumlah tongkol yang menggendong biji. Pendek kata, banyak pebisnis anthurium mendadak bergelimang rupiah. Keuntungan menggiurkan mendorong orang-orang membenamkan modal.

Kepada Imam Wiguna, wartawan Trubus, Rhenald Kasali memaparkan pandangannya tentang bisnis anthurium dari kacamata pemasaran. Berikut petikan wawancara pada 17 November 2007.

Apa yang memicu fenomena anthurium seperti sekarang?

Sekarang ini kita memasuki era the dream society. Pada era seperti itu, masyarakat membeli sesuatu karena cerita di balik produk itu. Jadi, apa pun produknya kalau bisa dibikin cerita dan itu menjadi histeria massa, maka menjadi suatu yang populer.

Dalam pemasaran, ada yang disebut pop marketing. Fenomena pop marketing seperti kasus Inul Daratista. Popularitasnya mencuat setelah ditekan raja dangdut sehingga orang-orang bersimpati. Pamornya menjadi naik, tapi kemudian hilang. Fenomena itu cuma sesaat. Jadi bukan karena Inul nyanyinya bagus, tetapi karena cerita tentang dirinya yang menarik. Cerita bahwa Inul teraniaya, orang bersimpati, goyangnya ngebor, dan punya keistemewaan tertentu yang berbeda dengan yang lain. Kalau cerita itu bisa diperoleh, akan menjadi hit. Tapi umurnya ada yang panjang, ada juga yang pendek.

Adakah contoh yang berumur panjang?

Yang berumur panjang biasanya pariwisata, karena memang dipelihara. Misalnya Danau Loch Ree di Irlandia Utara, yang dipercaya dihuni monster. Padahal itu hanya gejala alam. Yang seperti itu umurnya panjang, selama bisa melestarikan gejala alam itu. Contoh lain, cerita tentang batu gantung di Danau Toba.

Bagaimana dengan anthurium?

Pada tanaman atau pun ikan hias, biasanya umurnya pendek. Yang agak panjang umurnya barangkali ikan arwana karena sulit membudidayakannya. Kalau mudah, juga akan cepat hilang.

Fenomena anthurium juga disebabkan cerita yang dibuat seputar tanaman hias itu. Dalam hal ini media punya peranan karena memotret kondisi masyarakat dan histeria orang-orang terhadap tanaman itu. Begitu juga pameran-pameran tanaman hias yang sekarang ini selalu ramai pengunjung.

Adakah komoditas lain yang mengalami fenomena seperti itu?

Masih ingat soal cacing? Itu juga kan cuma sebentar. Komoditas pertanian kalau kelebihan pasokan, harga jatuh. Apalagi kalau dia mudah dibudidayakan dan diperbanyak. Menurut pengalaman saya, anthurium itu mudah. Cuma perlu waktu saja. Saya sudah 5 tahun pelihara anthurium. Bertahun-tahun saya simpan di depan ngga ada yang melirik. Dulu saya beli cuma Rp75.000. Saya lihat memang bagus. Saya suka tanaman yang tidak dimiliki orang banyak.

Pada kasus cacing masalahnya adalah tidak ada end user. Saya takut anthurium juga begitu. Waktu itu saya beli bukan karena mahal, tetapi karena lagi murah. Harga Rp75.000 waktu itu masih cukup mahal. Dengan harga Rp20-juta-Rp200-juta, saya curiga tidak ada end user-nya.

Pada saat cacing sedang ramai dulu, saya pernah tanya seorang peternak, buat apa? Katanya bagus buat kosmetik. Ternyata ketika saya telusuri, pasar yang benar-benar untuk kosmetik itu tidak pernah ditemukan. Saya khawatir pada anthurium juga terjadi pasar imajiner. Orang beli tanaman hanya untuk dijual lagi dengan harga lebih tinggi. Jadi pasarnya pedagang kan? Bukan konsumen?

Produk yang pasaran, harganya pasti tidak akan tinggi. Contoh mobil Toyota. Begitu Toyota Kijang semua orang bisa beli, harganya sekitar Rp100- juta- Rp250-juta. Ia ngga bisa dijual dengan harga Rp500-juta. Harga setinggi itu sudah masuk kelas mewah seperti Crown, Lexus, BMW, Volvo, Audi, dan jumlahnya sedikit.

Masyarakat memandang anthurium dan tanaman hias lain sebagai peluang usaha. Apakah dengan fenomena seperti itu, tanaman hias merupakan lahan investasi yang baik?

Tanaman hias merupakan komoditas yang sudah menjadi kebutuhan. Popularitas aglaonema atau anthurium adalah perkembangan baik. Lonjakan yang di-push menjadi letupan-letupan menunjukkan bahwa tanaman hias menjadi industri yang dibutuhkan masyarakat. Nah, kalau untuk investasi, tergantung bidang usaha yang akan digeluti. Apakah mau jadi pembudidaya, pedagang kecil, pengumpul, atau membuka pelatihan? Orang harus memilih menjadi pelaku usaha yang mana. Kecuali Anda memiliki reputasi tertentu sehingga orang datang dengan sendirinya untuk membeli tanaman.

Menurut Anda, bidang usaha apa yang paling menguntungkan?

Dalam hal ini yang menguntungkan adalah menjadi pedagang. Sebab, ia hanya menentukan harga beli dan harga jual. Pedagang itu bisa mengendus pasar. Kalau terjun di budidaya, seringkali tidak menguasai informasi pasar. Ia hanya tahu hubungannya dengan pedagang. Petani kadang-kadang tidak tahu informasi pasar yang benar sehingga mudah tertipu. Begitu harga tinggi, baru membudidayakan. Padahal rumus pengusaha, beli di saat murah, jual ketika harga tinggi.

Terkadang petani bertindak sebaliknya, membeli di saat harga tinggi karena ada histeria massa. Begitu menjual harga sudah turun. Saya dengar dari rekan yang bermain tanaman, ada importir yang mendatangkan anthurium secara besar-besaran dari Thailand dan menjualnya dengan harga murah. Akibatnya, harga anthurium di tanahair jatuh. Pada kondisi seperti ini, siapa yang untung? Pedagang kan?

Kalau jadi petani, jangan hanya memasok ke toko-toko. Dalam bisnis di dream society, jangan cari uang, tapi bangunlah brand image (citra merek, red). Jika image tertanam, ia akan menjadi pencipta isu, momentum, dan sumber berita. Semua orang akan bertanya ke dia karena ia telah menjadi pakar. Berapa pun produk yang ia jual akan dibeli orang. Tapi kalau jadi follower, tidak bisa seperti itu.

Bagaimana mempertahankan bisnis yang berdasarkan tren?

Ini kan fenomena pop marketing. Kalau fenomena pemasaran yang biasa, suatu produk melalui siklus produk yang panjang. Pada pop marketing, dalam siklusnya terdapat gejolak-gejolak. Trennya sangat pendek, cuma 2-3 tahun. Suatu produk yang terlalu dipacu agar cepat melejit di pasaran, akan cepat hilang juga. Untuk mempertahankannya cukup sulit.

Yang bisa dilakukan adalah mengambil keuntungan sesaat. Selalu membeli pada saat harga akan naik. Begitu menjadi berita besar, lepas semua produk dan beralih ke komoditas lain. Ikuti saja tren. Jika ingin aman, main di produk yang abadi. Yang abadi itu harganya murah, konstan, tetapi yang beli ada terus.

Apakah harus selalu menghadirkan yang terbaru untuk melanggengkan tren?

Masalahnya satu orang pemain tidak dapat mendikte pasar. Harus ada konsensus dalam pasar. Konsensus dibentuk oleh berbagai hal. Misalnya namanya antik apa tidak. Contoh, kenapa wave of love berkembang? Karena kata wave of love itu menarik. Nama aslinya kan anthurium. Tetapi begitu diganti gelombang cinta karena daunnya bergelombang, lalu menjadi wave of love, orang menjadi wahâ?¦! Bisa menjadi cerita.

Jadi dengan memberikan nama yang khas, pemiliknya hanya sedikit, dan media mempublikasikannya, timbullah histeria massa. Lalu orang tertarik untuk berinvestasi. Terjadilah kejutan. Kalau ada komoditas yang seperti itu, bisa. Tapi lagi-lagi masuklah ketika harga masih rendah. Begitu mencapai puncak, segera lepas produk karena masa puncak tidak datang 2 kali. Begitulah pop marketing.

Bila dibandingkan dengan pasar modal, mana yang lebih berisiko?

Pasar modal itu berbeda. Para pelaku pasar modal dapat memantau pasar setiap saat. Pagi ia membeli saham, sore mungkin bisa dijual kembali. Pergerakan harga setiap waktu dapat dipantau. Mereka juga dilindungi oleh undang-undang, lembaga pengawas seperti Bapepam. Anthurium? Kondisinya sebaliknya. Oleh sebab itulah pasar anthurium tidak bisa dikendalikan. Aksi-aksi kecurangan tidak dibatasi undang-undang. Pada prinsipnya, setiap bisnis yang menjanjikan keuntungan besar, juga berisiko besar. Begitu juga anthurium, jadi harus hati-hati.

http://www.trubus-online.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=1&artid=134

This article was translated by Google Translator. Thank you Google.

Rhenald Kasali PhD: Who Consumer End?

The house down the road it looks beautiful. Caladium and anthurium flowers neatly arranged in the front yard. Coolness greeted when setting foot in a house in Pondokgede, Bekasi, it is.

'Come with me,' said Rhenald Kasali PhD, the owner of the house. Renowned marketing expert was invited to the backyard. These plants are being trendy yes, he asked, pointing to half anthurium wave of love as high as 1.5 m. Initially the wave of love that is put on the front page, but because many people targeting, Rhenald move it back.

A wave of love is maintained since 5 years ago. The price when it Rp75.000. Chairman of the Master of Management Program University of Indonesia was not expected anthurium is now popular in the community. Price Anthurium jenmanii through the numbers to hundreds of millions of dollars. In Karanganyar, Central Java, one of the centers, the velocity of money in a planter-Rp30 million per day.

Anthurium popularity also helped boost the price of seed to reach hundreds of thousands of dollars. Price of the parent plants assessed from the amount of frigate that carried the seeds. In short, many businessmen anthurium suddenly wallowing dollars. Tempting advantages to encourage people to immerse capital.

To the Imam Wiguna, journalists Trubus, Rhenald Kasali explained his views on business marketing anthurium from glasses. Here's an interview on 17 November 2007.

What triggered the phenomenon of anthurium like now?

Today we enter the era of the dream society. In an era like that, people buy something because it's the story behind the product. So no matter what the product can be made if the story and it became a mass hysteria, it becomes a popular.

In marketing, there are the so-called pop marketing. The phenomenon of pop marketing is like the case of Inul. Sticking his popularity after the king of dangdut pressed so people sympathize. Fallen to rise, but then disappeared. The phenomenon was only momentary. So it's not because the singer Inul is good, but because of the interesting stories about her. The story that Inul persecuted, people sympathize, rocking ngebor, and have certain keistemewaan different from the others. If the story can be obtained, will be a hit. But there is a long age, some are short.

Are there examples of long-lived?

Tourism is usually long-lived, because it is maintained. Eg Lake Loch Ree in Northern Ireland, which is believed inhabited monsters. And it is only natural phenomena. That such a long age, as long as it can preserve the natural phenomena. Another example, the story of stone hanging on Lake Toba.

What about the anthurium?

On plants or ornamental fish, are usually short lived. Perhaps its age a little longer because it is difficult cultivate arowana fish. If easy, would also quickly disappear.

This phenomenon is also caused anthurium story made it around ornamental plants. In this case the media have a role because the photographing conditions of society and the hysteria of people against the plant. Likewise exhibitions ornamental plants that now is always crowded visitors.

Are there any other commodity of a phenomenon like that?

Still remember about worms? It's also just a minute. If the excess supply of agricultural commodities, prices fall. Especially if he is easily cultivated and propagated. In my experience, it's easy anthurium. Just need time alone. I was 5 years maintained anthurium. Many years I keep in front of the guns there is a glance. I used to buy only Rp75.000. I saw it was good. I like plants that are not owned by the crowds.

In the case of a worm problem is there is no end user. I am afraid of anthurium, too. At that time I bought not because of expensive, but because of longer cheap. Price Rp75.000 time was still quite expensive. With the price of Rp20, 200-million-million, I suspect there is no end user.

At the time the worm was busy before, I once asked a farmer, why? He said good for cosmetics. Apparently when I browse, the market really to cosmetics were never found. I am concerned at the anthurium also occur imaginary market. People buy only plants to be sold again at a higher price. So the merchant market is not it? Not the consumer?

Products that market, the price would not be high. Examples of Toyota cars. Toyota Kijang so everyone can buy, it costs around Rp100-Rp250-million-million. He guns could be sold at a price of 500-million. Rates as high as it has entered the luxury class as Crown, Lexus, BMW, Volvo, Audi, and the numbers a bit.

Society views anthurium and other ornamental plants as a business opportunity. Does such a phenomenon, ornamental plants is a good investment area?

Ornamental plants is a commodity that has become a necessity. Popularity aglaonema or anthurium is a good development. Spike in a burst of push-pop shows that industrial plants to be required by the community. Now, if for investment, depending on their area of business to be cultivated. Do want to be farmers, small traders, collectors, or open training? People should choose a business which. Unless you have a certain reputation so that people come by themselves to buy the plant.

In your opinion, what areas are most profitable business?

In this case the benefit is to be a trader. Because, it just determines the purchase price and selling price. The merchant can sniff out the market. If the jump in cultivation, often do not control the information market. He only knows to do with the merchant. Farmers sometimes do not know the correct market information so easily fooled. Once the high prices, a new breed. Though the formula businessman, bought when cheap, sell when prices are high.

Sometimes farmers to act otherwise, to purchase at high prices because there is mass hysteria. Once the selling price has dropped. I heard from a colleague who played the plants, there are importers who bring in massive anthurium from Thailand and sold at cheap prices. As a result, prices fell anthurium in the homeland. In this condition, who is lucky? Merchants do not you?

If so farmers do not only supply to shops. In the dream of business in society, do not look for money, but build brand image (brand image, red). If the image is embedded, it will be the creator of the issue, momentum, and news sources. Everyone will ask to him because he has become an expert. Whatever the product that he sold to buy one. But if I were a follower, not be like that.

How to maintain a business that is based on trends?

It's a phenomenon of pop marketing. If the usual marketing phenomenon, a product with long product cycles. In the pop marketing, in a cycle there are flare-ups. Trend is very short, only 2-3 years. A product that is too driven to quickly skyrocketed in the market, will quickly disappear as well. To keep it quite difficult.

What can be done is take a quick profit. Always buy when the price will rise. Once it became big news, off all products and switch to other commodities. Just follow the trend. If you want to be safe, play in a product that lasts. It's cheap eternal, constant, but there is a buy and hold.

Do you have to always bring the latest to perpetuate the trend?

The problem is one player can not dictate the market. There must be consensus in the market. Consensus formed by a variety of things. For example what is called an antique. For example, why the wave of love develop? Since the wave of love that word interesting. Anthurium's real name. But it replaced because its leaves undulating waves of love, then into the wave of love, people become nice?! Could be a story.

So by giving a distinctive name, its owner just a bit, and publish media, mass hysteria arises. Then people interested in investing. There was a surprise. If there is such a commodity, you can. But again come when prices are low. Once reaching the top, right off the top of the product because the did not come 2 times. That pop marketing.

When compared with the capital market, which is more risky?

Capital markets is different. Capital market participants can monitor the market at any time. Morning he bought the shares, the afternoon may be sold again. Price movements can be monitored at all times. They are also protected by law, such as the watchdog Bapepam. Anthurium? His condition otherwise. That is why the market can not be controlled anthurium. Fraud actions are not restricted by law. In principle, any business that promises big profits, is also a big risk. Likewise, anthurium, so be careful.

http://www.trubus-online.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=1&artid=134

Leave a Reply