Pilih Melepas Posisi Manajer: Kisah Fendi Salim merintis In Adenium Nursery

Share on TwitterDigg ThisShare via email

Fendi SalimSemasa remaja di Kalimantan, Fendi Salim hanya punya satu batang pohon adenium lokal dengan bunga berwarna pink. Itu pun karena ia ketularan hobi mamanya. Tapi, setelah pindah dan menetap di Jakarta sejak 1991, secara perlahan koleksi kamboja jepang-nya beranak pinak hingga tujuh sampai delapan pohon. Saya suka melakukan stek, ujarnya.

Kecintaan Fendi terhadap adenium makin bertambah setelah pada akhir 2002 dia mengetahui bahwa adenium itu memiliki bunga yang berwarna-warni. Dari situlah muncul keinginan Fendi untuk menekuni hobi adenium secara serius. Pertengahan 2003, dia berkenalan dengan seorang pemain besar di Thailand melalui milis internasional. Sejak itu dia mulai bergaul dengan penggemar adenium di seluruh dunia.

Melalui milis pula Fendi jadi tahu banyak cara merawat adenimn secara baik dan benar. Setelah merasa cukup mendapatkan ilmu, Fendi berani mengeluarkan modal Rp 4 juta untuk membeli biji adenium thaisocotranum dan adenium arabicum untuk dia semai sendiri. Hasilnya, 90% biji tumbuh menjadi adenium yang sehat dan montok. Waktu itu belum saya bisniskan dan saya bagikan kepada teman-teman saya. Separonya saya kembangkan sendiri sampai sekarang, kenangnya.

Dia mengaku bernar-benar hanya belajar secara otodidak lewat milis dan rajin bertanya kanan kiri kepada para penghobi adenium yang lebih berpengalaman. Hasilnya, kini Fendi pun sudah berani membagi ilmu yang dia peroleh sekaligus menceritakan pengalaman-pengalamannya lewat internet. Dia pernah menulis artikel tentang kawin silang adenium di milis adeniummania dan kebonkembang.com. Nama saya sebagai penulis artikel adalah Datuk Maringgih, tuturnya.

Berani meninggalkan pekerjaan tetap
Fendi mulai membuka usaha tanaman hias adenium pada 2005. Setahun kemudian, tepatnya pada Agustus 2006, dia mencoba ikut Pameran Flora dan Fauna di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Waktu itu Fendi bersama dengan tiga orang temannya membawa bendera Samsara Nurseri yang sudah berdiri sejak akhir 2005.

Sambutan pengunjung terhadap kehadirannya ternyata cukup meriah. Maklum, banyak kawannya di milis adenium yang tinggal di sekitar Jakarta bertandang ke stan Samsara Nurseri. Sayang, kemesraan para pemilik Samsara tidak berlangsung lama. Sebulan setelah pameran, Fendi lebih percaya diri untuk mengibarkan bendera sendiri bernama In Adenium Nurseri. Sekarang saya sudah mempekerjakan lima karyawan, tukasnya.
Untuk mendirikan In Adenium Nurseri, Fendi mengaku hanya mengeluarkan modal Rp 2,5 juta. Modal itu dia pakai untuk membangun sebuah situs di internet. Adapun modal tanaman dia peroleh dari tanaman-tanaman lama yang sudah menjadi koleksinya. Kan saya sudah memiliki adenium arabicum blackgiant, yemen, rachine, dan beberapa thaisoco, katanya.

Saat ini sarjana komputer lulusan Universitas Bina Nusantara ini hanya menggantungkan hidup dari usaha adenium. Dia memegang prinsip bahwa membisniskan hobi itu memang paling enak. Padahal, sebelum menetapkan hati untuk menggeluti adenium, Fendi pernah menjajal profesi sebagai teknisi komputer hingga menyabet posisi sebagai manajer showroom.

Sembari berdagang, ayah satu putra ini masih terus mengembangbiakkan adenium. Boleh dibilang dia membidik seluruh rantai usaha tanaman hias ini. Dari berbisnis biji, menyilangkan adenium hibrida, sampai mengoleksi pohon unik. Setiap kali panen biji, Fendi pun segera menawarkannya kepada beberapa pelanggannya melalui SMS. Tak lupa dia pasarkan pula melalui milis-milis.

Khusus untuk pohon unik, dia berencana untuk ikut lomba dengan harapan bisa mendongkrak harga, termasuk meningkatkan kapabilitas dan kepercayaan konsumen. Bahkan, dia sudah ambil ancang-ancang sejak setengah tahun yang lalu untuk membuat dan membentuk adenium unik.
Hasilnya, Fendi berhasil membentuk dan mengukir bonggol adenium hingga menyerupai bentuk ular kobra, anak anjing, dan ikan koi. Pembentukan bonggolnya sejak sebulan sampai tiga bulan. Yang anak anjing dan ular kobra baru jadi. Sedangkan yang mirip koi sudah ada sejak enam bulan, tandasnya.

Kontan Edisi Khusu Oktober – November 2007

This article was translated by Google Translator. Thank you Google.

Choose Removing Manager Position: The Story of Fendi Salim pioneered In Adenium Nursery

As a teenager in Kalimantan, Fendi Salim had only one local Adenium tree with pink flowers. That, too, because he contracted his mama hobby. But, after moving and living in Jakarta since 1991, is slowly his collection of frangipani Japanese breed of up to seven to eight trees. I like to do cuttings, he said.

Fendi's love of Adenium growing in late 2002 after he learns that it has a flower Adenium colorful. From there comes the desire to pursue hobbies Fendi Adenium seriously. Mid-2003, he became acquainted with a big player in Thailand through an international mailing list. Since then he started hanging out with Adenium fans around the world.

THE PEOPLE Fendi also learned a lot how to care adenimn well and properly. After feeling quite get the science, Fendi dare issued capital of USD 4 million to buy seeds and Adenium Adenium thaisocotranum Arabicum to her own nursery. The result, 90% Adenium seeds grow into a healthy and plump. At that time I have not bisniskan and I share with my friends. I developed their own half until now, he recalls.

He admitted bernar really just self-taught through the mailing list and be diligent in asking the right left to the more experienced hobbyist Adenium. The result, now Fendi had already dared to share the knowledge he gained at once to tell his experiences via the Internet. He once wrote an article about crossbreeding in Adenium adeniummania and kebonkembang.com mailing list. My name as the author of the article is Datuk Maringgih, he said.

Dare to leave the job
Fendi began to open businesses Adenium ornamental plant in 2005. A year later, in August 2006, he tried out for Flora and Fauna Exhibition in Lapangan Banteng, Central Jakarta. At that time, Fendi along with three others carrying flags Samsara nursery that had stood since late 2005.

Greeting visitors to his presence was quite festive. Understandably, many of his friends on the mailing list Adenium who live around Jakarta come to the booth Samsara nursery. Unfortunately, the owners of Samsara romance did not last long. A month after the exhibition, Fendi more confidence to fly the flag of his own called In Adenium nursery. Now I've hired five employees, he said.
In order to establish Adenium nursery, Fendi admitted only issued capital of USD 2.5 million. Capital that he used to build a site on the internet. The plants he obtained capital from old plants that have become collection. I already have my Adenium Arabicum blackgiant, Yemen, rachine, and some thaisoco, he said.

Currently an undergraduate computer is a graduate of the University of Bina Nusantara only livelihood of businesses Adenium. He holds the principle that membisniskan hobby was most delicious. In fact, before setting out for Adenium wrestle, Fendi've tried the profession as a computer technician to snatch the position as manager of the showroom.

While trading, the father of one son continues to breed Adenium. You could say he's aiming for the whole chain of this ornamental plant business. From the seed business, crossing Adenium hybrid, to collect a unique tree. Each time the crop seed, Fendi was immediately offered it to several customers via SMS. Not to forget he is also marketed through mailing lists.

Special to the unique tree, he plans to race in the hope of driving up prices, including increasing the capability and confidence of consumers. In fact, he had taken square off in half a year ago to create and form a unique Adenium.
The result, Fendi successfully formed and carved to resemble a hump Adenium cobra, puppies, and koi fish. Cob formation since a month to three months. The puppy and the new cobra so. While that is similar to koi has been there since six months, he said.

Cash khusu Edition October-November 2007

Leave a Reply