| Pilih Melepas Posisi Manajer: Kisah Fendi Salim merintis In Adenium Nursery |
|
|
| Written by Administrator | |||||||||||
| Saturday, 19 January 2008 02:26 | |||||||||||
|
Kecintaan Fendi terhadap adenium makin bertambah setelah pada akhir 2002 dia mengetahui bahwa adenium itu memiliki bunga yang berwarna-warni. Dari situlah muncul keinginan Fendi untuk menekuni hobi adenium secara serius. Pertengahan 2003, dia berkenalan dengan seorang pemain besar di Thailand melalui milis internasional. Sejak itu dia mulai bergaul dengan penggemar adenium di seluruh dunia. Melalui milis pula Fendi jadi tahu banyak cara merawat adenimn secara baik dan benar. Setelah merasa cukup mendapatkan ilmu, Fendi berani mengeluarkan modal Rp 4 juta untuk membeli biji adenium thaisocotranum dan adenium arabicum untuk dia semai sendiri. Hasilnya, 90% biji tumbuh menjadi adenium yang sehat dan montok. Waktu itu belum saya bisniskan dan saya bagikan kepada teman-teman saya. Separonya saya kembangkan sendiri sampai sekarang, kenangnya. Dia mengaku bernar-benar hanya belajar secara otodidak lewat milis dan rajin bertanya kanan kiri kepada para penghobi adenium yang lebih berpengalaman. Hasilnya, kini Fendi pun sudah berani membagi ilmu yang dia peroleh sekaligus menceritakan pengalaman-pengalamannya lewat internet. Dia pernah menulis artikel tentang kawin silang adenium di milis adeniummania dan kebonkembang.com. Nama saya sebagai penulis artikel adalah Datuk Maringgih, tuturnya. Berani meninggalkan pekerjaan tetap Fendi mulai membuka usaha tanaman hias adenium pada 2005. Setahun kemudian, tepatnya pada Agustus 2006, dia mencoba ikut Pameran Flora dan Fauna di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Waktu itu Fendi bersama dengan tiga orang temannya membawa bendera Samsara Nurseri yang sudah berdiri sejak akhir 2005. Sambutan pengunjung terhadap kehadirannya ternyata cukup meriah. Maklum, banyak kawannya di milis adenium yang tinggal di sekitar Jakarta bertandang ke stan Samsara Nurseri. Sayang, kemesraan para pemilik Samsara tidak berlangsung lama. Sebulan setelah pameran, Fendi lebih percaya diri untuk mengibarkan bendera sendiri bernama In Adenium Nurseri. Sekarang saya sudah mempekerjakan lima karyawan, tukasnya. Untuk mendirikan In Adenium Nurseri, Fendi mengaku hanya mengeluarkan modal Rp 2,5 juta. Modal itu dia pakai untuk membangun sebuah situs di internet. Adapun modal tanaman dia peroleh dari tanaman-tanaman lama yang sudah menjadi koleksinya. Kan saya sudah memiliki adenium arabicum blackgiant, yemen, rachine, dan beberapa thaisoco, katanya. Saat ini sarjana komputer lulusan Universitas Bina Nusantara ini hanya menggantungkan hidup dari usaha adenium. Dia memegang prinsip bahwa membisniskan hobi itu memang paling enak. Padahal, sebelum menetapkan hati untuk menggeluti adenium, Fendi pernah menjajal profesi sebagai teknisi komputer hingga menyabet posisi sebagai manajer showroom. Sembari berdagang, ayah satu putra ini masih terus mengembangbiakkan adenium. Boleh dibilang dia membidik seluruh rantai usaha tanaman hias ini. Dari berbisnis biji, menyilangkan adenium hibrida, sampai mengoleksi pohon unik. Setiap kali panen biji, Fendi pun segera menawarkannya kepada beberapa pelanggannya melalui SMS. Tak lupa dia pasarkan pula melalui milis-milis. Khusus untuk pohon unik, dia berencana untuk ikut lomba dengan harapan bisa mendongkrak harga, termasuk meningkatkan kapabilitas dan kepercayaan konsumen. Bahkan, dia sudah ambil ancang-ancang sejak setengah tahun yang lalu untuk membuat dan membentuk adenium unik. Hasilnya, Fendi berhasil membentuk dan mengukir bonggol adenium hingga menyerupai bentuk ular kobra, anak anjing, dan ikan koi. Pembentukan bonggolnya sejak sebulan sampai tiga bulan. Yang anak anjing dan ular kobra baru jadi. Sedangkan yang mirip koi sudah ada sejak enam bulan, tandasnya. Kontan Edisi Khusu Oktober - November 2007
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
|