Andariani- Pemilik Florist & Stones Surabaya.

Share on TwitterDigg ThisShare via email

Andariani Pemilik Florist & StonesSosoknya terlihat sederhana. Namun siapa sangka, wanita murah senyum ini adalah pengusaha tanaman hias sukses di kota Surabaya. Biasanya, setiap pengusaha tanaman hias menyukai tanaman impor, karena dinilai cukup menguntungkan. Selain itu, tanaman impor lebih mudah dan praktis daripada memperbanyak sendiri. Namun ternyata, tidak semua pengusaha bisa menerima produk impor, karena bisa mempengaruhi harga jual produk lokal.

Andariani, pemilik Florist&Stones Surabaya, salah satunya. Ia memilih untuk konsentrasi mengembangkan tanaman hias lokal daripada tanaman hias impor. Alasannya, produk lokal mempunyai karaktersitik lebih bagus dari barang impor yang dikembangkan melalui kultur jaringan.

Wanita ini masuk ke bisnis tanaman hias dari hobi yang ditularkan oleh kedua orangtuannya sejak kecil. Dari kesukaannya pada tanaman hias itu, maka mulailah ia membuka usaha untuk mengkomersilkan tanaman hias koleksinya sejak dua tahun yang lalu. Hasilnya, tentu sudah pasti sangat menguntungkan. Apalagi sang suami yang dinikahinya sejak tahun 1997 cukup mendukung usahanya itu.

Di awal usahanya, wanita yang akrab dipanggil Anjar ini sebenarnya tak langsung mengkomersilkan tanaman hias. Ia mengawali usahanya dengan bisnis batu paras yang bisa dibentuk sesuai pesanan atau kreasi pemesannya, seperti untuk hiasan dinding, pot, dan air mancur. Ternyata dari bentuk pot yang bervariasi itu, ia berhasil mendominasi penjualan batu paras miliknya.

“Kalau ada satu barang yang laris, maka harus dipikirkan paduannya dan tanaman hias sangat cocok dengan pot,”imbuh Anjar.

Melihat kondisi yang ada, naluri bisnis Anjar langsung terbuka. Apalagi koleksi tanaman hias miliknya sendiri bisa dijadikan modal untuk memulai usaha tanaman hias. Awalnya, ia mengaku cukup sulit mengembangkan usahanya itu, sebab masih belum banyak yang mengenal produk dan lokasi yang dimilikinya.

Bisnis batu sendiri ia dalami, karena sesuai dengan profesi suami yang bekerja sebagai arsitek. Lalu, ia kembangkan dan gabungkan sendiri antara bisnis batu dengan tanaman hias. Saat ini Anjar sudah memiliki satu ruang display untuk lokasi penjualan. Sedangkan untuk nurseri, masih dalam tahap pembangunan.

Setelah berjalan selama dua tahun, usaha batu dan tanaman hias yang dilakoninya ternyata mendapatkan respon di luar prediksi, sebab awalnya usaha ini sebagai satu cara untuk menambah aktifitasnya. Namun ternyata, setelah berjalan selama dua tahun, bisnis ini bisa menghasilkan keuntungan yang besar, sehingga ia pun serius untuk mengelolanya.

Memang hampir sebagian besar pengusaha tanaman hias berawal dari hobi dan itu menjadi satu nilai lebih yang dimiliki Anjar, sebab tanaman hias saat ini mampu jadi satu komoditi yang mempunyai nilai tinggi. Jadi, peluang keberhasilan yang didapat dipastikan lebih besar, sebab didukung oleh pengalaman mengelola yang cukup lama dan itu jadi satu senjata ampuh untuk memajukan bisnisnya.

Kembangkan Koleksi Aglaonema

Koleksi terbanyak yang dimiliki Anjar saat ini didominasi oleh tanaman aglaonema. Aglaonema merupakan tanaman favoritnya saat masih kecil. Dari aglaonema ini, ruang display yang diberi nama Florist&Stones di kawasan Jl. Lontar Surabaya mulai banyak didatangi pembeli. Bahkan saat tanaman anthurium mendominasi di pasaran sekarang ini, tetap banyak penghobi aglaonema yang datang untuk melihat koleksi miliknya.

Meski belum besar, namun dari tanaman hias diakui Anjar banyak mendapatkan pengalaman yang cukup banyak. Yang paling terasa adalah peningkatan kualitas kesabaran dari proses perawatan yang dilakukan terhadap tanaman hias. Kesabaran tentu jadi satu modal utama bagi penghobi tanaman hias, sebab semua orang sudah tahu bahwa merawat tanaman harus melalui proses yang panjang. Contohnya aglaonema, untuk menghasilkan daun siap jual membutuhkan waktu minimal enam bulan. Selain itu, setiap perlakuan yang kita berikan, seperti pemupukan maupun pengobatan dari serangan serangga maupun jamur tidak bisa dirasakan langsung.

Kekhawatiran yang muncul saat ini adalah makin maraknya gempuran produk impor yang terus masuk ke pasar tanaman hias nasional. Meski bagi pengusaha akan mendatangkan untung yang lebih cepat dan besar, tapi secara keseluruhan hal itu bisa merusak pasar tanaman hias, terutama dari harga jualnya.

Lihat saja reality bisnis tanaman hias saat ini, untuk pasaran aglaonema harganya mulai turun sejak akhir tahun 2006 sampai sekarang. Penurunan harga itu, menurut Anjar, selain dari naiknya pamor anthurium juga dari banyaknya produk impor di pasar. Akibatnya, harga jual otomatis turun berdasarkan hukum pasar.

“Dilihat dari kualitas, sebenarnya produk lokal tetap lebih unggul. Salah satunya dari kualitas batang dan daun yang lebih tebal, sehingga terkesan lebih kokoh,” ujar Anjar. “Bahkan saat ini, untuk produk lokal salain Pride Of Sumatera ada beberapa varian yang tetap mempunyai harga pasaran tinggi,” lanjutnya.

Contohnya Aglaonema Tiara yanga diperjual-belikan di kisaran harga Rp 1,75 juta per-daunnya. Sementara aglaonema Diana dipatok harga Rp 1,5 juta setiap daunnya, dan Adelian yang masih berkisar Rp 300 ribu per-daun. Untuk Pride Of Sumatera sendiri, saat ini harga beli masih sekitar Rp 20 ribu per-daunnya.

Dari kondisi pasar saat ini, memang mau-tidak mau dirinya harus mengikuti pasar, dimana produk impor tetap tidak bisa dihindari, baik itu untuk aglaonema maupun anthurium yang saat ini jadi ratu daun di Indonesia. Namun sebagai pengusaha yang mempunyai idealisme sendiri, ibu satu anak ini memilih tetap konsentrasi mengembangkan produk lokal.

Langkah pertama yang diambilnya sebagai strategi pasar adalah mengurangi koleksi impor yang dimilikinya untuk dijual ke pasar dan mengutamakan produkl lokal sebagai koleksi. Meski melawan pasar, namun dilihat dari potensi kekuatan tanaman lokal, harga jualnya dipastikan bisa bersaing.

“Kalau kualitas produk lebih baik, tentu harga lebih tinggi, tapi tidak bisa produksi masal, sebab proses pentumbuhan lambat,” tandas Anjar.

Dari konsep yang diambilnya itu, kini ia sudah menyiapkan untuk membangun satu nurseri sebagai satu syarat untuk mengembangkan usaha tanaman hias, sebab laiknya sebuah restoran wajib mempunyai dapur sebagai produksi makanan, begitu juga untuk tanaman hias, harus ada satu tempat untuk pengembangan produk.

Bila ditanya apakah dulu pernah menyangka bisa mengembangkan satu bisnis tanaman hias dari hobi, Anjar mengaku sama sekali tidak terpikirkan. Dari situ dirinya merasa bahwa siapapun bisa jadi pengusaha, asalkan dikerjakan dengan serius dan tentunya bisa melihat peluang pasar untuk mencapai sukses. [wo2k]

http://tabloidgallery.wordpress.com/2007/09/29/andariani-pemilik-florist-stones-surabaya/

This article was translated by Google Translator. Thank you Google.

Andariani-Owner Surabaya Florist & Stones.

His figure looks simple. But who would have thought, her ready smile is a successful businessman ornamental plant in the city of Surabaya. Usually, every entrepreneur like plants imported ornamental plants, as it is considered quite profitable. In addition, imports of plants much easier and practical than reproduce itself. But apparently, not all employers can receive imported products, because it can affect the selling price of local products.

Andariani, owner of Surabaya Florist & Stones, one of them. He chose to concentrate on developing local ornamental plants than imported plants. The reason, local produce has a better characteristic of the goods imported are developed through tissue culture.

These women go into business from a hobby of ornamental plants that are transmitted by both orangtuannya since childhood. From his fondness for ornamental plants, then he began to open a business to commercialize the collection of ornamental plants since two years ago. The result, of course it is definitely very beneficial. Moreover, she married her husband since 1997, enough to support his efforts.

At the beginning of his business, a woman who fondly called Anjar is actually not directly commercialize ornamental plants. He started his business with a business sandstone that can be formed according to the order or pemesannya creations, such as for wall hangings, pots, and fountains. Apparently from the varied forms of pots, he managed to dominate the sales of his sandstone.

If there is one item that sells well, then it should be considered alloys and ornamental plant well suited to the pot, added Anjar.

Looking at the existing conditions, business instinct open direct Anjar. Moreover, his own collection of ornamental plants can be used as capital to start a business of ornamental plants. Initially, he admitted quite difficult to expand its business, for many who still do not know the product and its location.

Stone business himself he understood better, because the profession in accordance with husbands who worked as an architect. Then, he developed his own between the business and combine stone with ornamental plants. Currently Anjar already have a display space for the location of the sale. As for the nursery, still under construction.

After running for two years, the business of stone and ornamental plants which turned out to get a response dilakoninya outside input, because this business initially as a way to increase its activity. But it turns out, after running for two years, this business can generate huge profits, so he was serious to manage it.

Indeed most of the ornamental plant business started from a hobby and it became one more value that is owned Anjar, for ornamental plants is currently able to become a commodity that has high value. So, the chances of success obtained certainly larger, because it is supported by the experience of managing a long time and it became a powerful weapon to advance its business.

Develop Collection Aglaonema

Largest collection owned Anjar currently dominated by plants aglaonema. Aglaonema plant is a favorite as a child. From this aglaonema, display space that is named Florist & Stones in the Road. Ejection Surabaya began much visited by buyers. Even as anthurium plants dominate in the market today, still many aglaonema hobbyist who came to see his collection.

Although not large, but of many ornamental plants are recognized Anjar gain enough experience. Most noticeably is improving the quality of patient care processes are conducted on ornamental plants. Patience would be a major capital for the hobbyist ornamental plants, because everyone already knows that taking care of the plant must go through a long process. Aglaonema example, to produce leaves ready for sale takes a minimum of six months. In addition, any treatment that we provide, such as fertilization and treatment of insect and fungal attack can not be felt immediately.

Concerns that arise today are increasingly rampant onslaught of imported products continue to enter the national market of ornamental plants. Although employers will bring in profit for a faster and larger, but overall it could damage the market of ornamental plants, mainly from the sale price.

Just look at the reality of business today ornamental plants, for aglaonema market prices began to drop since late 2006 until now. Price declines, according to Anjar, apart from the rising prestige of anthurium also from the many imported products on the market. As a result, selling prices automatically fall under the laws of the market.

Judging from the quality, local product actually stay one step ahead. One of the quality of the stems and leaves are thicker, so it seem more solid, said Anjar. Even today, for local products Salain Pride Of Sumatra, there are several variants that still have high market prices, he added.

For example yanga Aglaonema Tiara for sale in the range of Rp 1.75 million per-leaves. While Diana aglaonema cost about Rp 1.5 million each leaf, and Adelian are still around Rp 300 thousand per-leaf. For Pride Of Sumatra alone, the current purchase price is approximately USD 20 thousand per-leaves.

From the current market conditions, it would-not want him to follow the market, where imported products is inevitable, whether it's for aglaonema and anthurium are currently the queen of leaves in Indonesia. But as a businessman who has his own idealism, the mother of one child to choose fixed concentration of developing local products.

The first step is taken as the market strategy is to reduce the collection of imports that had to be sold into the market and put local produkl as a collection. Although against the market, but seen from the potential power of local plants, the selling price can certainly compete.

If product quality is better, of course higher prices, but can not mass production, because the process is slow pentumbuhan, said Anjar.

From concept had taken it, now he is preparing to build a nursery as a prerequisite for developing the business of ornamental plants, because Like the restaurant must have a kitchen for food production, as well as for ornamental plants, there should be a place for product development.

When asked if had ever thought I could develop a business from a hobby of ornamental plants, Anjar admitted absolutely unthinkable. From there he felt that anyone could be a businessman, as long as it is done seriously and certainly could see the market opportunity for success. [Wo2k]

http://tabloidgallery.wordpress.com/2007/09/29/andariani-pemilik-florist-stones-surabaya/

Leave a Reply