|
Profesi sebagai desainer lanskap bukan hanya bertanggung jawab pada desain taman (gardening) tetapi juga dengan desain lanskap alam (macro). Itulah pandangan Prof. Hadi, Ketua Departemen Lanskap Institut Pertanian Bogor yang ingin mengenalkan kepada masyarakat kalau profesi desainer lanskap mempunyai tugas yang luas. Tidak semata-mata bergerak pada skala mikro yaitu pertamanan (gardening) tapi mencakup skala masa (penataan lanskap desa dan kota, bahkan skala makro penataan lanskap wilayah. Termasuk merencana, mendesain, mengelola unit ekologis seperti DAS Daerah Alisan Sungai.
 Sedari kecil, Hadi menyukai tanaman dan binatang. Tak heran, di rumahnya dicipta laksana hutan. Kecintaan akan tanaman dan binatang yang terangkum dalam taman ingin disebarluaskan. Sebagai dosen, Hadi selalu menanamkan semangat dan tanggung jawab ini kepada mahasiswanya. Harapannya jika nanti lulus, para mahasiswa berperan aktif dalam pengelolaan lingkungan menuju green city , kota hijau. "Kota hijau adalah kota yang ramah lingkungan dan berkelanjutan dalam segala aspek kehidupan," ujar lelaki energik ini. Green city akan memberi kenyamanan, keindahan dan keamanan bagi penghuninya. Tak hanya warga, tetapi juga turnbuhan, tanaman, hewan, satwa liar termasuk fungsi tanah, air, dan udara yang soling terkait membentuk lingkaran yang seimbang. Para lanskaper mempunyai peran penting dalam penataan lahan yang ideal guna mencegah malapetaka lingkungan.
Konsep ini tidak hanya bertengger di menara gading universitas, tetapi juga disebarluaskan ke masyarakat. Tahun 2008 ini, Hadi berkeliling ke 12 kola di P. Jawa untuk memberi penyuluhan dan penilaian perihal kola hijau bersama program Sampoerna Hijau Kotaku Hijau. Dengan penyampaiannya yang jenaka dan membumi, Hadi memberi penjelasan tentang kegunaan taman umum (public park). Tak hanya keindahan, tetapi juga fungsi sosialnya. Sehingga taman harus dilengkapi dengan fasilitas umum misal rekreasi (tempest bermain anak), dan raga, mushola. Secara lebih spesifik, taman umum dibagi menjadi taman kota (city park), taman lingkungan (community park), taman ketetanggaan (neighborhood park), dan taman pojok (west pocket park). 
LANSKAP UNIK Tak hanya fungsi, bagi Hadi, taman juga menarik dari sisi budayanya. Di pedesaan, taman di sekeliling rumah disebut pekarangan. Hadi membawa istilah ini hingga tingkat internasional. "Pekarangan di Indonesia itu khas. Itu yang menjadi tesis doktoral saya," ujarnya. Tujuannya untuk menunjukkan ke
Masih seputar kultur, Hadi mengamati jenis tanaman yang ada di pekarangan tergantung dari lokasi. Di Jawa Tengah, pekarangan banyak ditanami sawo kecik berkaitan dengan kepercayaan masyarakat akan simbol-simbol. Bunga-bunga untuk sesajen banyak ditanam di pekarangan Bali karma seringnya upacara yang menggunakan bunga-bunga ini. Sementara di Sunda, pekarangan banyak ditanami sayuran untuk lalap.
"Dari memelihara pekarangan atau taman di sekeliling rumah, kites akan berkontribusi pada pelestarian lingkungan global," pesan Hadi kepada Taruna Hijau, pemuda wakil dari daerah dalam Sampoerna Hijau Kotaku Hijau. Dengan bahasa sederhana, is mengajari caranya membuat taman. Hingga dari salah satu peserta tercetus kalimat," Wah, bikin taman ternyata mudah, yes Prof. Kalau gini aja sih, saya bisa bikin di rumah." Bila semangat ini ditularkan kepada tetangga sekitar ketika utusan ini pulang ke daerah, niscaya green city bisa terwujud. Hingga kini, Prof Hadi-pun masih gigih memperjuangkan. * Teks/Foto : Titik
|