Info Tanaman Hias Indonesia

KEBONKEMBANG.COM

Asyik, Tiap Desember Berburu ke Thailand Print E-mail
Written by Administrator   
Friday, 28 December 2007 02:08
Addthis

Sejalan dengan booming bisnis tanaman hias, usaha impor bibit tanaman hias pun semakin menjanjikan. Tapi risikonya juga tinggi. Simak lika-liku dan trik perburuan bibit ke Thailand.  


Bisnis tanaman hias telah menjadi sebuah industri yang kian besar di Indonesia. Tak hanya pebisnis, banyak pula penggemar dan orang-orang biasa bertanam flora hias ini sebagai usaha sampingan. Semua ini membuka peluang bisnis baru, yakni impor bibit atau bakal tanaman. Gunawan Wijaya, pemilik Wi,jaya Nursery, melihat kebutuhan impor tanaman hias masih cukup tinggi. Produksi lokal baru bisa memenuhi sekitar 50% dari total permintaan bibit dalam negeri, ujar Gunawan yang juga menggeluti bisnis impor bibit. Selama ini Gunawan mendatangkan bibit beberapa jenis aglaonema dari Thailand. Maklum, Di Indonesia susah mendapatkan varietas baru dari penyilang untuk pengembangbiakan, ujarnya.

Suka tak suka, Negeri Gajah Putih tersebut sudah lama menjadi kiblat untuk urusan produk-produk pertanian. Dus, kini Thailand pun sudah menjadi penyedia bibit tanaman hias terkenal di dunia.

Tabiat petani kembang di Thailand memang berbeda dari kita. Misalkan, meski harga anthurium sedang tinggi, petani aglaonema di sana tidak lantas beramai-ramai beralih ke anthurium. Nah lantaran bisa menyediakan bibit secara kontinyu, plus mereka rajin menghasilkan silangan baru, Thailand juga menjadi sumber utama bibit bagi importir Indonesia.

Banyak nursery di Thailand yang menawarkan bibit di situsnya. Salah satunya siamadenimum.com. Namun, cara ini berisiko. Sebab Anda harus mengirimkan duit dulu, baru Anda mendapat kiriman barang. Itu pun ada kemungkinan bibit yang Anda peroleh tak sesuai harapan.

Karena itu, berdasar pengalaman para pengimpor bibit, datang langsung ke Thailand merupakan cara terbaik untuk memperoleh barang dagangan, setidaknya untuk tahap awal. Jika mau ke sana, siapkan waktu Anda menjelang awal Desember setiap tahunnya. Pada gaat itu Raja Thailand. Bhumibol Adulyadej merayakan ulangtahun. Perayaannya berlangsung sejak tanggal 1 hingga 10 Desember. Di situ pemain tanaman hias dan buah juga berkumpul memamerkan produk unggulannya.


Momen ini bisa Anda manfaatkan untuk mencari bibit yang baik sekaligus membangun jaringan antarpemain tanaman hias. Dari kunjungan di Thailand itu, Saya punya jaringan di 12-15 negara. Kini setiap tahun kami kumpul di Thailand pada awal Desember, ujar Chandra Gunawan, pemilik Godong Ijo Nursery.

Memiliki jaringan luas sangat penting. Dengan jaringan ini kita bisa mendapat informasi dan pasokan produk terbaru dengan harga yang kompetitif.


Selama di Thailand, jangan lupa bertandang ke Chatuchak Weekend Market. Chatuchak ini adalah pasar tradisional terbesar di Bangkok yang buka hari Sabtu dan Minggu mulai pukul 7 pagi sampai pukul 6 sore. Pasar seluas 142.000 m2, setiap harinya dikunjungi 200.000 - 300.000 orang. Kabarnya, hampir seluruh nursery yang ada di pasar ini menyediakan barang bagus.

Untung gede, risiko juga gede
Cuma, ada satu masalah bagi importir Indonesia. Menurut Gunawan, para pemain tanaman di Bangkok tahu harga di Indonesia sedang tinggi. Jika ada pembeli dari negara lain, seperti Malaysia, mereka pasti lebih suka menjua1nya pada pengusaha Indonesia yang berani beli lebih tinggi.

Lalu berapa besar margin yang diperoleh para importir bibit tanaman hias ini? Ternyata, tak satu pun pemain yang mau menyebutkan angka pastinya. Marginnya bisa 5% sampai 1.000% atau juga bisa rugi 5% hingga 100%, ujar Chandra. Intinya, semakin unik dan langka bibit sebuah tanaman, semakin besar marginnya.


Nah, di sinilah perlunya kejelian sang importir melihat prospek pasar. Agar menangguk untung besar, dia harus bisa memperoleh tanaman yang sedang dan bakal ngetren di nasar Indonesia. Satu lagi, jangan sampai mengimpor bibit yang sudah bisa dibudidayakan di Indonesia. Jika tanaman itu tak ada keunikannya,

Siap-siap saja kena hantam persaingan harga.
Satu catatan penting yang tak boleh dilupakan. Kini importir belum tentu bisa melihat induk dan menelusuri asal-usul keturunan si bibit. Kalau dulu saya masih tahu indukannya itu bagaimana. Sekarang banyak sekali pemain di sana tak mau lagi menunjukkan indukannya, paling cuma kasih lihat fotonya, ujar Gunawan. Karena itulah, untuk menjalankan bisnis impor bibit ini Anda mutlak harus memiliki pengetahuan yang memadai kalau tidak ingin jadi bulan-bulanan pasar.

Setelah Anda mendapatkan bibit, pengiriman barang adalah hal yang perlu Anda perhatikan berikutnya. Untuk aglaonema, karena rentan, lebih baik Anda bawa dengan hand carry, ujar Handry Chuhairy, pemilik Han Garden. Namun jumlah yang bisa Anda tenteng langsung terbatas. Biasanya importir membawanya dalam satu koper berisi 500 bibit. Kalau dengan paket pengiriman barang, rata-rata waktu pengirimannya tiga hari. Kalau sudah ukuran kontainer, waktu kirimnya bisa dua minggu, imbuh Handry.Setelah melalui masa pengiriman, Anda harus segera memulihkan kondisi tanaman. Sialnya, seringkali importir malah mengalami permasalahan saat mereka akan membawa masuk tanamannya ke dalam negeri.

Izin yang telah mereka kantongi ternyata tak lantas membuat mereka bisa lenggang kangkung membawa masuk tanamannya ke sini. Kabarnya, masih ada banyak biaya siluman yang harus mereka keluarkan agar urusan lancar.


Kembangbiakkan Sendiri Dulu, Baru Jual
Kebutuhan bibit tanaman hias di dalam negeri belakangan ini memang sedang tinggi-tingginya. Produksi lokal yang terbotas membuat harganyo melambung tinggi. Maklum, menurut taksiran Gunawan Wijaya, pemilik Wijaya Nursery, produksi bibit lokal saat ini baru bisa mencukupi 50% kebutuhan domestik. Makanya, bisnis impor bibit pun terus berkibar.

Memasukkan tanaman jenis baru ke Indonesia memang berisiko. Menciptakan pasar dan kebutuhan memang bukan gampang. Karena itu, jika ingin sukses, setiap importir bibit wajib memiliki insting yong tajam untuk mencium prospek suatu jenis tanaman.

Dus, untuk memasarkan dan mengeduk keuntungan maksimal dari tanaman jenis baru, para importir dan penjual bibit tentu punya trik sendiri. Umumnya para importir tak akan menjual seluruh persediaan bibit tanaman barunya.


Sebagian bibit itu akan mereka tanam dan kembangbiakkan sendiri. Mereka tak akan menjual sampai jumlahnya sesuai dengan yang mereka inginkan. Biasanya mereka belum akan melepas bibit-bibit hasil budidaya mereka itu ke pasaran kalau jumlahnya belum mencapai 1.000 -10.000 pohon. Dengan cara ini mereka bakal menikmati keuntungan yang besar.

Handry Chuhairy, pemilik Han Garden mengaku banyak petani tanaman hias membeli bibitnya. Si petani tersebut akan mengembangbiakkan lagi bibit-bibit itu.


Maka, dia tak langsung melepas semua bibit impornya ke pasar. la mengembangbiakkannya sendiri dulu. Sehingga ketika bibit itu dilepas ke pasar, dia telah memiliki banyak persediaan. Dengan cara ini, Handry siap memenuhi semua permintaan yang siapa tahu saja dotang membeludak.

Oleh: Yuwono Triatmodjo.


Kontan, Edisi Khusus, Oktober - November 2007.

Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
You are here  :

Resources TopOfBlogs Add to Technorati Favorites Gardening Blogs - BlogCatalog Blog Directory tanaman hias newsfeed

Astaga.com lifestyle on the net