Apa hubungan antara kasur busa dengan media tanam? Keduanya sama-sama menyimpan air di bagian dasar jika disiram hingga jenuh. Jika risiko genangan air di kasur adalah kasur rusak, ancaman genangan air di media adalah akar-bahkan tanaman-busuk. Lalu dari mana kita tahu media itu jenuh air atau tidak? Jawaban yang saya dapat dari coba-coba sederhana bermacam-macam, tergantung media yang dipakai.
![]() Masih ada air yang tertahan di media |
![]() Pasir malang paling sedikit menyimpan air (55 cc) dibanding media campuran pasir malang, sekam |
![]() Pasir halus di pot ke-2 menyerap kelebihan air di pot pertama. Ini cara terbaik menanam sukulen |
Media pasir malang paling sedikit menyimpan air, sekam bakar paling banyak. Volume air yang dihitung adalah volume air setelah pot disiram sebanyak 1,32 l atau 1 gayung. Air berlebih segera keluar dari dasar pot. Lalu pot didiamkan sampai tak ada lagi air menetes. Setengah jam kemudian pot dimiringkan 500. Dengan posisi seperti itu ternyata air masih mengalir keluar. Volume air itulah yang diukur.
Pada percobaan dengan media pasir malang, yang ditampung hanya 55 cc. Dengan media campuran pasir malang, sekam bakar, dan kompos dengan perbandingan sama air, 151 cc. Sementara jika medianya sekam bakar murni 230 cc. Mengapa bisa seperti itu, padahal tadi selama 30 menit ditunggu tak ada lagi air yang keluar? Itu berhubungan dengan daya kapiler.
Tanaman kering
Penggunaan potongan styrofoam atau kerikil di bagian dasar pot yang lazim dilakukan ternyata membuat air lebih banyak tertahan di media. Itu karena daya kapiler styrofoam atau kerikil lebih kecil daripada media sehingga sisa air di media tidak tertarik styrofoam atau kerikil. Jika mau ‘mengambil’ air tertahan di media gunakan bahan yang punya daya kapiler lebih besar daripada media tanam yang dipakai.
‘Bahan’ yang punya daya kapiler besar antara lain tanah merah dan tanah liat. Jika media di pot bisa kontak l;angsung dengan tanah, maka media lebih cepat kering. Masalahnya sulit mengatur adanya kontak antara media dengan tanah yang dipilih. Padahal itu salah satu syarat terjadinya daya kapiler. Tanpa kontak langsung maka daya kapiler tanah tidak bisa meniadakan daya kapiler media.
Maka dicobalah pasir. Pasir halus punya daya kapiler paling besar ketimbang pasir-pasir lainnya. Pasir disimpan di dalam pot ceper dengan ketinggian tertentu. Lalu pot berisi tanaman disimpan di atasnya. Untuk memastikan ada kontak antara media dan pasir maka di bagian dasar pot diberi pasir juga. Hasilnya? Air yang tersimpan di media akan ‘tertarik’ keluar menuju pasir. Ketika sudah tersimpan di pasir pot ceper, air lebih mudah untuk pergi melalui proses penguapan.
Pada tanaman yang suka kering-misal gasteria, haworthia, dan echeveria-kombinasi penggunaan media pasir malang dengan ‘bak’ pasir di bawah pot tanaman paling baik. (dr Budiardjo, pencinta tanaman hias di Jakarta)
http://www.trubus-online.co.id/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=1&artid=1952