Tak seperti pendahulunya yang klasik, mawar batik muncul dengan corak beragam. Sementara puring baru daunnya sangat atraktif.
HIBRID MAWAR MEMANG TAK TERHITUNG BANYAKNYA.
Kebanyakan diproduksi oleh Belanda. Mawar-mawar itu memang mawar subtropis alias mawar daerah dingin. Kalau ditanam di Indonesia harus di kawasan pegunungan berketinggian di atas 700 m diatas permukaan laut (dpl).
Sebenarnya banyak mawar yang bisa tumbuh di dataran rendah. Corak dan ragamnya juga banyak. Mawar jenis ini umumnya bukan untuk cut flower sebagaimana mawar holland, tetapi untuk pot plant. Salah satunya adalah mawar batik yang dikembangkan Jenny Biwidjaya, kolektor tanaman di Jakarta Timur. Prosesnya sudah lama, ujar Jenny. Pada awalnya hanya mawar biasa, warna merah dan kuning, lantas disilangkan. Hasilnya muncul beragam warna. Mulai dari pink muda, pink tua, merah, dsb. Mereka disilangkan lagi dan diseleksi. Hasilnya adalah mawar hitam dan mawar batik. Pada mawar hitam, kelopaknya berwarna merah sangat tua mendekati hitam.
Berbeda dengan mawar batik. Sejak kuncup sudah terlihat corak batiknya. Ada pink dan putih, serta merah marun dan putih. Begitu mekar, corak batiknya semakin jelas. Kalau diperhatikan, setiap kuntum coraknya berbeda-beda, terang Jenny. Bahkan dalam satu tanaman bisa menghasilkan corak beragam, tidak ada yang sama persis. Bisa dikata, corak macam ini langka.
Biasanya hasil hibrid mawar hanya polos. Atau kalau ada perpaduan warna, hanya pinggirannya. Misalnya mawar putih pinggirnya pink. Ada juga kuning dengan pinggiran merah. Uniknya, mawar batik ini batangnya tidak berduri.
Menurut Jenny, mawar batik bisa ditanam di dataran rendah. Di rumah saya, Cipinang, Jakarta juga bisa berbunga, katanya. Kalau ingin bunganya lebih besar dan warnanya lebih cerah, mesti ditanam di dataran tinggi.
Bibitnya berasal sambung pucuk(grafting). Batang atasnya mawar batik dan pucuknya mawar biasa. Setelah 2-3 bulan, sambungan sudah siap tanam. Medianya berupa campuran sekam bakar, sekam mentah, dan pupuk kandang.
Penyiraman dilakukan sehari dua kali. Pemupukan dengan N-P-K, sebulan sekali. Pupuk kandang diberikan saat pertama kali menanam. Bila perawatan bagus, tanaman bakal lekas berbunga.
TAMPIL ATRAKTIF
Puring (Codiaeum variegatum) agaknya menjadi tanaman pagar favorit. Sosoknya yang rimbun dan tegak bisa menggantikan bentuk pagar tembok. Karena mudah tumbuh dan memasyarakat, puring sering diremehkan.
Namun tidak demikian dengan beberapa puring corak baru ini. Sebut saja puring apel, puring jengkol, puring dasi, puring keris, dan puring oscar. Namanya memang masih nama dagang. Mereka itu merupakan hasil persilangan.
Puring jenis ini didatangkan dari Bangkok setahun lalu, kata Dedy Supriyadi, kolektor puring di Rawa Belong, Jakarta. Awalnya hanya batang atas, lantas disambung dengan puring biasa sebagai batang bawahnya. Tiga bulan kemudian, batang atas dan batang bawah menyatu. Jadilah bibit puring setinggi 20 cm, dibandrol Rp 150.000. Menurut Dedy, puring apel dan kura-kura diperbanyak dengan cara sambung dan cangkok. Untuk mencangkok, butuh waktu 2 bulan hingga akar tumbuh dan siap tanam.
Perihal media, pemilik Safira Flora ini mencampur sekam bakar, sekam mentah, kotoran kambing dan tanah bakar. Intinya, media tidak padat.
Puring tahan sinar matahari lang-sung. Agar daunnya bagus, pemupukan perlu dilakukan. Enam bulan sekali dengan slow realease fertilizer alias pupuk yang tidak gampang larut. Pupuk jenis ini lebih awet dan lebih hemat. Karna ulat sering makan daun puring, meski jarang terjadi. *
Jenis-Jenis Puring Anyar
PURING APEL
Dinamai apel karena bentuk daunnya bulat dengan bagian ujung daun agak berlekuk, mirip buah apel yang dibelah. Warnanya atraktif. Daun yang muda berwarna kuning cerah. Setelah agak tua muncul warna hijau. Daun tua merah marun dan merah cerah. Ada juga yang sudah muncul warna merah sejak awal.
PURING JENGKOL
Bentuknya bulat mirip jengkol. Ukuran daunnya tidak sebesar puring apel. Tidak semua daunnya bulat. Ada daun yang panjang seperti bulu ayam jantan, berwarna merah dan hijau gelap.
PURING KURA-KURA
Dinamai kura-kura karena corak daunnya mirip corak kerapas kura-kura. Daun yang ‘sudah jadi’ berwarna merah marun kotak kuning. Bentuk daun sama dengan bentuk daun puring biasa.
PURING DASI
Bentuk daunnya panjang seperti dasi. Kebanyakan berwana hijau, dengan garis tengah kuning cerah. Bagian pangkal daun agak melebar seperti dasi.
PURING KERIS
Panjang seperti puring dasi, hanya bagian tepinya agak berlekuk sehingga mirip keris.
PURING OSCAR
Koleksi Ratna Flower, Jakarta, ben-tuknya tidak begitu berbeda dengan puring biasa. Yang menjadi unik, susunan daunnya kompak. Warna juga menarik.
Flona Edisi 47/111 Januari 2007
This article was translated by Google Translator. Thank you Google.Newness: Rose Batik Puring Bangkok
ROSES ARE hybrid innumerable.
Most are produced by the Dutch. The roses are roses roses aka subtropical cold regions. If planted in Indonesia should be in the mountains above 700 m altitude above sea level (asl).
Actually a lot of roses that can grow in the lowlands. The style and variety too much. Roses of this type are generally not for the cut flower as the rose holland, but for a pot plant. One of them is a rose that was developed batik Jenny Biwidjaya, collector of plants in East Jakarta. The process is long, says Jenny. At first only the usual roses, red and yellow, then crossed. The results appear different colors. Ranging from pink, dark pink, red, etc.. They crossed again and selected. The result is a black roses and roses batik. In the black rose, red petals are very old close to black.
Unlike the roses batik. Since the buds are visible style batik. There are pink and white, and maroon and white. Once the bloom, batik patterns more clearly. If you look, every bud s type is different, bright Jenny. Even within a single plant can produce different shades, none of which match exactly. Could say, the style of this kind of rare.
Usually the result of hybrid roses are just plain. Or if there is a mix of colors, only the edges. For example pink roses and white edges. There are also yellow with red edges. Uniquely, this batik rose stems not spiny.
According to Jenny, batik roses can be planted in the lowlands. In my house, Cipinang, Jakarta also be flowering, he said. If you want the flowers are larger and brighter color, should be planted in the highlands.
Shoots of seedlings derived dial (grafting). Upper stem and bud rose roses batik regular. After 2-3 months, the connection is ready for planting. Media is a mixture of husk fuel, raw husks, and manure.
Watering is done twice a day. Fertilization with NPK, once a month. Manure is given when first planted. If good care, plants will be flowering soon.
Appear attractive
Croton (Codiaeum variegatum) seems to be a favorite hedge plant. His figure is lush and upright forms can replace the wall. Because it is easy to grow and socialize, croton are often underestimated.
But not so with some new twist this croton. Call it apples croton, croton jengkol, tie croton, croton dagger, and croton oscar. His name is still a trade name. They were derived from crosses.
Croton species was imported from Bangkok a year ago, said Dedy Supriyadi, croton collectors in Rawa Belong, Jakarta. Initially only the upper stem, and then spliced with croton usual as rods underneath. Three months later, the upper stem and lower stem together. Be croton seeds as high as 20 inches, priced at Rp 150,000. He said infrastructure, croton apples and turtles continued and propagated by grafting. For grafting, it took 2 months to grow roots and be ready to plant.
Concerning the media, the owner of this Flora Safira husk fuel mix, raw husks, roasted goat manure and soil. In essence, the media is not solid.
Croton hold direct sunlight. So that leaves a nice, fertilizing should be done. Six months with a slow Realease fertilizer, aka manure that is not easily soluble. Fertilizer type is more durable and more efficient. Karna caterpillars often eat croton leaves, although rare. *
Newer Puring Types
Croton APPLE
Named for an apple because it leaves a round shape with the tip slightly notched leaves, apple-like fruit is cleaved. The color is attractive. Young leaves are bright yellow. After the green color appear a bit old. Old leaves and bright red maroon. There is also a red color has emerged since the beginning.
Croton jengkol
The shape is round like jengkol. Croton leaves are not as big as the size of apples. Not all leaves are round. There are leaves that are long like a rooster feathers, red and dark green.
Croton TORTOISE
Tortoise named because its leaves resemble complexion complexion kerapas turtles. Leaves a 'ready made' maroon yellow box. Leaf shape similar to ordinary forms of croton leaves.
Croton tie
Long leaves form like a tie. Most colored green, with bright yellow center line. Widen the base of the leaf somewhat like a tie.
Croton KERIS
Such as croton tie length, only slightly curved edges so that similar dagger.
Croton OSCAR
Ratna Collection Flower, Jakarta, their shapes are not so different from ordinary croton. The unique, compact arrangement of the leaves. Color is also interesting.
Flona 47/111 Edition January 2007










