Hidupnya menyendiri di pinggir tebing. Akarnya mencengkeram pada bebatuan. Kaudeks berdiameter sekitar 6 cm menyembul di antara celah batu. Begitulah hidup Euphorbia waringiae di habitatnya. Namun, di tangan Boen Soediono anggota famili Euphorbiaceae itu tumbuh di dalam pot. Kehadirannya memperindah sudut ruang di kediamannya di Jakarta Pusat.
Euphorbia asal Madagaskar itu menjadi pilihan Boen lantaran bersosok unik. Kerabat jarak pagar itu memiliki bonggol bulat seukuran telur. Dari ujung bonggol tumbuh batang bercabang dua. Salah satu cabang hanya berukuran sekitar 6 cm dan diselimuti daun lanset hijau keunguan. Sedangkan cabang yang lain panjangnya sekitar 40 cm dan memiliki 2 anak cabang.
Masing-masing anak cabang itu tengah memunculkan bunga berwarna kuning dengan semburat salem. Bentuknya mirip Euphorbia milii yang populer di tanahair. Hanya saja berukuran lebih kecil yakni berdiameter 5-7 mm. Agar lebih cantik, tanaman itu ditanam pada pot keramik setinggi 20 cm. Cabang yang panjang dibiarkan menjuntai dan dito-pang batu fosil seukuran kepalan tangan sehingga membentuk gaya cascade.
Dari Thailand
Dengan penampilan seperti itu, Euphorbia waringiae ibarat naik kelas. Tanaman liar yang hidup di antara semak-semak itu kini berbalut pot nan indah. Saat dipajang pada pameran Trubus Agro Expo di Parkir Timur Senayan, Jakarta, tanaman itu banyak mengundang pujian para pengunjung. Ia memang pantas mengikuti jejak kerabatnya, seperti poinsetia dan Euphorbia milii yang lebih dulu dikenal sebagai tanaman hias.
Mengoleksi E. waringiae kian istimewa karena tergolong tanaman langka. Meski hidup jauh dari jangkauan manusia, keberadaannya di alam terancam punah. Maklum, ia tumbuh di daerah kritis dan minim hara. Keluarga jarak-jarakan itu hidup di bukit-bukit batu di bagian barat daya Madagaskar.
Untuk memenuhi kebutuhan hara, ia hanya bersandar pada humus yang berasal dari daun semak yang berguguran. Seandainya humus itu makin terkikis, maka terancam pula hidupnya. Dengan mengoleksi tanaman itu berarti memperpanjang kehidupan mereka. Apalagi bila kerabat singkong itu dibudidayakan dan diperbanyak baik secara vegetatif maupun generatif.
Tak hanya Euphorbia waringiae yang dikoleksi Boen. Euphorbia endemik Madagaskar lainnya juga ia datangkan via Thailand. Salah satunya Euphorbia capsaintemariensis. Penampilannya tak kalah unik. Dari ujung batang yang hanya setinggi 3 cm, tumbuh sekitar 20 cabang.
Di ujung cabang tumbuh daun tebal berukuran 2 cm yang bagian tepinya bergelombang dan menggulung ke dalam. Bunganya kuning dan mungil seukuran bunga Euphorbia waringiae. Hanya saja semburatnya hijau. E. capsaintemariensis juga hidup di daerah berbatu.
13 tahun
E. capsaintemariensis sejatinya varian dari Euphorbia decaryi. Jenis inilah yang dikoleksi Hanodo Buntoro di Pati, Jawa Tengah, sejak 13 tahun silam. Pantas bila dilihat dari bentuk daun keduanya hampir mirip. Bedanya, daun E. decaryi lebih tebal dan berwarna marun. Meski sedang tidak berbunga, sosok kerabat sambang darah itu menawan karena bertajuk rimbun. Saking rimbunnya batang dan cabang nyaris tak terlihat diselimuti daun.
‘Tanaman itu pertumbuhannya lamban, hanya beberapa milimeter setiap tahunnya. Ia lebih suka tumbuh membentuk cabang baru,’ ujar Buntoro. Oleh sebab itu, koleksi pemilik nurseri Soetomo Flora itu hanya setinggi 15 cm meski berumur 13 tahun. Namun, ketika daun disingkap tampak puluhan cabang yang sangat rapat.
Euphorbia endemik Madagaskar yang juga didatangkan Boen adalah Euphorbia suzannae-marnieriae. Daun tanaman yang hidup di Provinsi Toliara, Madagaskar, itu juga mirip capsaintemariensis dan decaryi. Hanya saja ukuran daun lebih panjang dan lebar. Daunnya juga lebih tipis. Namun, ia memiliki kaudeks seperti E. waringiae yang berukuran 5-6 cm.
Ada lagi Euphorbia neohumbertii yang penampilannya berbeda dengan ketiga jenis sebelumnya. Batangnya menyerupai kaktus dengan penampang melintang berbentuk segi delapan. Daunnya oval dan bertangkai menyerupai raket tenis. Daun hanya tumbuh di ujung cabang sehingga membentuk tajuk seperti payung. Tanaman terlihat indah bila daun pada setiap cabang tumbuh serempak.
Hibrida
Keelokan jenis spesies menitis pada turunannya. Salah satunya silangan antara Euphorbia labatii dan E. ambovombensis. Bila dilihat dari bentuk daun, hasil silangan itu didominasi karakter E. labatii. Ciri khas utama tanaman itu berdaun tipis dengan tulang daun berwarna hijau muda sehingga menimbulkan corak pada daun. Sedangkan E. ambovombensis memiliki karakter mirip E. decaryi yakni berdaun tebal, berwarna marun, dan keriting di bagian tepi daun. Alhasil, dari persilangan itu muncul karakter labatii, tetapi daunnya lebih tebal. Penampilannya kian cantik karena daun tumbuh roset.
Kecantikan kerabat bunga delapan dewa itu membuat Jeanne Wenas, kolektor asal Surabaya, rela merogoh kocek demi mendapat koleksi saudara dekat bunga delapan dewa itu. Ketertarikan pemilik nurseri Green & Grow itu bukan tanpa alasan. Keindahan kerabat-kerabat euphorbia ternyata dapat dinikmati meski sedang tak semarak bunga. (Imam Wiguna/Peliput: Destika Cahyana)
http://www.trubus-online.co.id/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=7&artid=1523
This article was translated by Google Translator. Thank you Google.As beautiful as the Immortals
Euphorbia from Madagascar Boen choice because it becomes a unique stature. Relative distance of the fence that has a round knob about the size of an egg. From the tip of the forked stem tuber grows. One branch is only measuring about 6 cm and covered with purplish green oblong leaves. While other branches around 40 cm in length and has 2 subsidiaries.
Each branch was the middle child raised yellow flowers with a tinge of salmon. It looked like Euphorbia milii are popular in homeland. It's just a smaller size that is 5-7 mm in diameter. To be more beautiful, the plants were planted in ceramic pots as high as 20 cm. Long branches are left dangling and ditto-sections of fossil stones about the size of a fist to form a cascade style.
From Thailand
With performances like that, Euphorbia waringiae like the next grade. Wild plants that live in the bush is now wrapped in a beautiful pot. Currently on display at Expo Agro Poster exhibition at the East Parking Senayan, Jakarta, the plant was a lot of praise to invite the visitors. He deserves to follow their relatives, such as Euphorbia milii poinsetia and more formerly known as an ornamental plant.
Collecting E. waringiae more special because of relatively rare plants. Despite living far from human reach, its presence in the wild are threatened with extinction. Understandably, he grew up in critical areas and minimal nutrients. Distance-jarakan family lived in the hills rock in the southwestern part of Madagascar.
To meet nutrient needs, he just leaned on humus derived from the falling leaves of a bush. If topsoil is increasingly eroded, then threatened his life anyway. By collecting the plant was meant to extend their lives. Moreover, when relatives of cassava is cultivated and propagated both vegetatively and generative.
Not only collected Euphorbia waringiae Boen. Euphorbia other Madagascar endemic bring it via Thailand. One of them Euphorbia capsaintemariensis. His appearance was no less unique. From the tip of the rod is only as high as 3 cm, grows about 20 branches.
At the end of the branches grow thicker leaf measuring 2 cm of wavy edges and roll up into. The flowers and tiny yellow flowers the size of Euphorbia waringiae. It's just semburatnya green. E. capsaintemariensis also live in rocky areas.
13 years
E. capsaintemariensis true variant of Euphorbia decaryi. This type of collectible Hanodo Buntoro in Pati, Central Java, since 13 years ago. No wonder when viewed from two very similar leaf shapes. The difference is, the leaves of E. decaryi thicker and colored maroon. Although not in flower, figure sambang blood relatives because it charming lush titled. Because of the thick stems and branches covered with leaves barely visible.
'Plant growth is slow, only a few millimeters each year. He prefers to grow to form new branches, 'said Buntoro. Therefore, a collection of nursery owners Soetomo Flora was only 15 cm tall 13-year-old though. However, when dozens of branch leaves exposed seemed very tight.
Euphorbia endemic to Madagascar, which also came Boen is Euphorbia suzannae-marnieriae. Leaves of plants that live in the province of Toliara, Madagascar, was also similar capsaintemariensis and decaryi. But the size of the leaves longer and wider. The leaves are also much thinner. However, it has kaudeks such as E. waringiae measuring 5-6 cm.
There is another Euphorbia neohumbertii whose appearance is different from the three previous types. The trunk resembles a cactus with octagonal cross section. The leaves are oval and stemmed resemble tennis rackets. The leaves grow only at the end of the branch so as to form an umbrella like canopy. Plants look beautiful when the leaves on each branch to grow in unison.
Hybrid
Species exude elegance on derivatives. One of them cross between Euphorbia labatii and E. ambovombensis. When viewed from the shape of the leaves, it dominated the hybrid character of E. labatii. The main characteristic of thin-leaved plant with light green leaves bones, giving rise to a pattern on the leaves. While E. ambovombensis has a character similar to E. decaryi the thick-leaved, maroon color, and curl at the edges of the leaves. As a result, from a cross that appeared labatii character, but its leaves are thicker. His appearance was more beautiful because of the leaf rosette grows.
Beauty relatives of eight flower god it makes Jeanne Wenas, collector from Surabaya, willing to spend to get a collection of flower close relative of the eight gods. Interest & Grow Green nursery owner is not without reason. Euphorbia relatives beauty can be enjoyed even though it was not lively interest. (Imam Wiguna / Covering: Destika Cahyana)
http://www.trubus-online.co.id/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=7&artid=1523












