Home » Serba-serbi » Tren Tanaman: Alami atau Rekayasa?

Tren Tanaman: Alami atau Rekayasa?

Sunday, January 6th 2008. | Serba-serbi
Share on TwitterDigg ThisShare via email

Gunawan Widjaja dari Wijaya Nursery berpendapat, dalam bisnis tanaman hias berlaku hukum pasar. Tingginya permintaan selalu menyebabkan kenaikan harga. Apalagi kalau barang itu tak banyak jumlahnya. Kalau stok tanaman sedikit tetapi permintaannya tinggi, pasti harganya akan naik, ujarnya.

Tingginya permintaan bisa dipengaruhi oleh bermacam faktor. Paling utama adalah keindahan tanaman itu sendiri. Selanjutnya kemudahan perawatannya. Ada syarat lain kalau mau jadi primadona, yakni adaptif dengan iklim dataran rendah. Ini sesuai denggan kebanyakan karakteristik daerah perkotaan di Tanah Air.

Apakab kalau sudah memenuhi syarat itu lantas permintaannya tinggi.
Tidak selalu, terkadang diperlukan trigger untuk merangsang kenaikan pamornya. Contoh paling dekat adalah moncernya anthurium. Ketika itu para petani di Karanganyar, Jawa Tengah berujar untuk menjadikan kotanya sebagai sentra anthurium. Anthurium dari berbagai tempat pun diborong, makanya harganya langsung melambung.

Uniknya ketika harga anthurium naik pesat, bisnis anthurium menjadi semakin marak. Semua pemain tanaman hias, terutama di kota-kota besar Pulau Jawa ikut meramaikan. Tingginya harga justru menjadi magnet sangat kuat bagi para pelaku bisnis tanaman hias.
Kenapa? Tentu saja ekspektasi akan keuntungan yang melimpah.

Bukan rahasia kalau banyak jenis tanaman hias dikarbit agar pamornya melejit dan banyak diburu. Namun tak semua barang karbitan sukses menuai popularitas. Kalaupun pamornya naik, umumnya tak akan bertahan lama. Tapi kalau memang memenuhi syarat untuk jadi favorit, kepopulerannya pasti bertahan lama. Minat konsumen akan selalu sama, tanaman terbaik. Secara estetika dia bagus, adaptif dengan iklim kita dan produktivitasnya tinggi, ujar Sansan.

Menurut Heri Syaefudin, tanaman baru tak akan bisa begitu saja dikarbit. Tanaman itu harus punya kelebihan dibandingkan jenis yang sudah ada sebelumnya. Ketersediaan materi juga harus cukup banyak, terang Heri Syaefudin.

Dalam pandangannya, tanaman hias ngetren dan digemari adalah tanaman yang terjual sampai ke tangan konsumen. Itu hanya bisa dipenuhi oleh jenis tanaman yang harganya terjangkau. Sementara tanaman hias yang dibandrol sangat mahal hanyalah tren semu belaka. Tanaman hias yang harganya puluhan bahkan ratusan juta tak akan bisa sampai ke tangan konsumen. Barang hanya akan berputar di tangan pedagang saja, ujarnya.

Heri menganjurkan untuk berhati-hati dengan tanaman hias yang bandrolnya gila-gilaan. Karena menurutnya, kehebohannya tak akan bisa bertahan lama. Hanya orang-orang di front line yang akan mendapat keuntungan. Pemain dan petani yang ikutikutan akan rugi karena harganya sudah turun, padahal belinya masih mahal, terangnya.

Bisnis tanaman hias yang ideal adalah dengan memproduksi massal.
Produksi massal sebanyak-banyaknya, dengan kualitas sebaik-baiknya. Lalu tekan harga serendah-rendahnya. Tapi dengan catatan harga jual tetap masih menguntungkan, ujarnya. Heri mencontohkan aglaonema Pride 0f Sumatera. Dia menjadi tanaman yang paling bannyak dikoleksi konsumen karena harganya terjangkau.

KUCAI, RUMPUT MINI, PLUMERIA LARIS MANIS

Menurul Heri Syaefudin dari Gonku lanscape dan Stock Plant di Sawangan, Depok, bisnis tanaman lansekap juga dipengaruhi oleh tren gaya taman. Sementara gaya taman mengikuti gaya arsitektur rumah minimalis yang sekarang marak. Otomatis jenis tanaman lansekap yang banyak dicari juga yang menjadi elemen taman minimalis.
Namun pengaruhnya menjadi tak terlalu terasa karena taman gaya minimalis hanya butuh sedikit materi baik jenis maupun jumlahnya, ujar Heri.Masih banyak orang Indonesia yang suka dengan suasana yang teduh dan hijau. Tak sedikit juga yang memadukan unsur garis-garis arsitektur bangunan yang minimalis dengan unsur lansekap tapis, lanjutnya.

Deddy Suhardi, perancang taman dari Natural Landscape juga menengarai hal serupa. Saat ini, tanaman lansekap terbagi menjadi 2, yaitu untuk keperluan taman minimalis dan natural. Tanaman untuk taman minimalis umumnya berpostur tinggi dan memanjang. Contohnya adalah iris.
Pilihan lainnya adalah helikonia atau rumput-rumputan, tambah Deddy.

Untuk menyiasati halaman agar terlihat luas, tanaman-tanaman itu diletakkaan di bagian pinggir. Sementara di tengah diisi rumput. Biasanya rumput yang lembut dan kecil. Seperti rumput swiss, peking, dan golf. Sebagai penyeimbang, beberapa pemilik taman minimalis menambahnya dengan tanaman perdu dan portulaka.

Taman bergaya minimalis biasanya memunculkan satu tanaman center
yang terletak di tengah taman. Tanaman tersebut biasanya harganya cukup mahal. Jenis kamboja dan palem kurma banyak dipilih, ujar Dedy. Pilihan tanaman mahal itu untuk menunjukkan derajat si pemilik taman.
Untuk taman bergaya natural, pilihan jenisnya tidak terlalu spesifIk. Hanya saja kebanyakan orang memilih tanaman seperti pisang-pisangan, pandan bali, tanaman air, tanaman bunga dan beberapa tanaman perdu lainnya, lanjutnya.

James Lumbanradja, general manager PT Benara, supplier tanaman bias di Karawang, Jawa Barat mengungkapkan, sepanjang tahun 2006 permintaan akan kucai semakin meningkat. Jelas ada hubungannya dengan tren gaya rumah minimalis yang tengah digandrungi masyarakat, katanya.

Beberapa tanaman yang mengusung tema etnik masih tetap diminati, semisal kamboja (Plumeria sp). Tanaman ini menjadi favorit bagi para gardener karena pas untuk tipe taman etnik seperti gaya Bali dan Jawa. Sementara untuk pasar luar negeri, aneka tanaman berbau tropis justru terus menghangat. *

Flona Edisi 47/111 Januari 2007

Related For Tren Tanaman: Alami atau Rekayasa?

Comment For Tren Tanaman: Alami atau Rekayasa?

Dapatkan inspirasi berkebun serta info dan tip tanaman hias dari kami. Masukan email anda disini:

Friend me on FacebookFollow me on TwitterAdd me to your circlesRSS Feed

Tanaman Hias Indonesia

  • Partner links