| Refleksi: Mimpi Indah Bersama Anthurium |
|
|
| Written by Kurniawan Junaedhie | |||||||||
| Friday, 04 January 2008 07:03 | |||||||||
|
Sudah hampir setengah tahun ini pesona anthurium berhasil memelet orang Indonesia. Coba Anda tanya secara random pada semua pedagang tanaman: tanaman apa yang kini diburu orang? Jawabnya tentu anthurium melulu, seperti tidak ada tanaman hias keren lainnya saja.
Tapi, memang baru tahun ini terjadi, pemain burung walet dan pengumpul cengkih berselingkuh dengan anthurium. Banyak pula juragan yang dulu mata bisnisnya tak berurusan dengan tumbuhtumbuhan --seperti pengusaha bus, supermarket, bahan bangunan, kontraktor, perusahaan bakery, atau pabrik sepatu-- kini juga sibuk bermain anthurium. Orang kantoran yang telanjur ikutan berbisnis anthurium juga mulai pada gelisah. Banyak di antara mereka sudah ngebet kepingin segera pensiun dini. Maklum, gaji mereka cuma Rp 10 juta per bulan, sementara dari menjual satu pot anthurium mereka bisa menyabet untung sampai Rp 20 juta. Orang kaya baru juga banyak. Ada petani kecil yang berhasil membeli Honda Jazz dari jualan anthurium. Banyak ibu rumahtangga yang tiba-tiba merasa jagoan dari suaminya karena berhasil memiliki sebuah kulkas empat pintu atau TV plasma baru hasil barteran dengan anthurium miliknya. Serunya, bisnis anthurium memang terbuka bagi siapa saja. Begitu hebatnya pamor anthurium, belakangan ini lahir importir anthurium dadakan. Sohib Thailand saya di Bangkok lapor bahwa banyak pemilik nursery dari Indonesia yang kedapatan keluyuran ke segala pelosok Negeri Gajah itu untuk berburu anthurium. Wah, kita boleh bangga karena orang Indonesia di Thailand termasuk pembeli anthurium VIP. Artinya, asal ada barang, mereka berani bayar mahal. Jika Thailand kosong, mereka tak sungkan lompat ke Filipina. Pendeknya, jangan sampai pulang dengan tangan hampa. Gengsi, dong. Yang menarik untuk dicatat banyak pula bakul tanaman yang sebelumnya mengklaim diri sebagai spesialis penjual tanaman hias tertentu kini tanpa malu-malu banting setir jualan anthurium. Banyak Alibaba Orchids mendadak menjadi Alibaba Nursery. Dan, tokoh yang tadinya sering disebut sebagai pakar dan suka diundang berdemo, juri, atau berceramah tentang adenium, aglaonema, atau anggrek, juga sudah mulai berbisnis anthurium baik secara terangterangan atau umpet-umpetan. Ujung-ujungnya harga anthurium bak indeks harga saham, berloncat-loncatan ke sana kemari. Saban hari selalu ada SMS masuk, menawarkan anthurium, mengabarkan harga biji naik, dan seterusnya. Harga hari ini bisa berbeda dengan harga esok atau kemarin. Percetakan uang yang legal Kini, lazim orang nienawar anthurium dengan cuma menyebut merek mobil. Mobil yang paling popuer dijadikan patokan misalnya Avanza, atau Inova dari berbagai tipe, meskipun kadang terkesan gagah-gagahan saja. Batasan end user, konsumen, atau kolektor pun pupus sudah. Pada dasarnya mereka semua kini kepingin jadi investor. Beli satu pot kecil kecambah saja, para pemula sudah bermimpi akan kaya mendadak. Para maling tentu ingin kaya mendadak juga dong. Akibatnya mereka semakin over acting. Semua tanaman, asal dianggap anthurium, pasti digasak. Bagi maling, rupanya anthurium jenis apa saja dianggap mahal sehingga mereka lebih senang menggondol tanaman ini daripada menggondol Yamaha Mio, misalnya. Berkah dari maraknya anthurium pun meluap ke mana-mana. Dari penjual pakis yang jadi media tanam utama anthurium, produsen atau penjual pot jumbo, sampai penerbitan dan pengarang buku panduan merawat anthurium. Pendeknya, anthurium membawa berkah bagi semua, termasuk rakyat kebanyakan. Di Jawa Tengah muncul istilah ekonomi kerakyatan. Maksudnya, para juragan atau investor membagi-bagikan benih atau tanaman induk kepada rakyat sekitar melalui sistem plasma. Bisa cuma-cuma, bisa pula dibagi dengan harga murah ketimbang harga pasar. Tujuan sebenarnya supaya maling tidak berkeliaran dan biaya centeng bisa ditekan karena warga bisa berbisnis pula. Tapi, tanpa disadari cara ini membuat ekonomi di kawasan itu bangkit sendiri. Jutaan rupiah menggelontor masuk pedesaan. Muncul kepentingan bersama menjaga stabilitas keamanan sekaligus menjaga pamor tanaman hias daun itu. Para penguasa daerah yang smart kini rajin bikin pameran sebagai ajang promosi sekaligus marketing anthurium. Hasilnya luar biasa. Wonogiri, yang pernah disebut sebagai daerah minus berhasil mendapat devisa lumayan ketika menyelenggarakan pameran. Banyak orang kaya datang ke sana membelanjakan uangnya. Tak hanya di Jawa, di Samarinda hal yang sama terjadi juga. Ketika mengadakan pameran bulan lalu, Pak Wali dan Pak Camat merasa gembira karena daerahnya mendapat masukan devisa dari daerah-daerah di sekitarnya. Saking bangganya, para pejabat. itu berambisi menjadikan Kota Kayu itu sebagai tujuan wisata agro. Tak pelak lagi, kita tengah dihanyut mimpi indah bersama anthurium yang kini telanjur dijuluki sebagai si Raja Daun. Sudah muncul anggapan, jika ingin kaya secara instan, berbisnislah anthurium. Sedikitnya jika ingin dianggap kaya, beli dan peliharalah anthurium. Seperti emas dan berlian, anthurium mendadak sontak menjelma menjadi perhiasan sekaligus barang investasi. Selama enam bulan terakhir ini harga anthurium memang gila-gilaan. Harga bijji anthurium jenmanii, misalnya, bergerak naik secara spektakuler: dari hanya Rp 35.000, Rp 135.000. Kini saat tulisan ini dibuat sudah mencapai Rp 250.000 per biji. Kalau disemai dan jadi kecambah sudah dihargai Rp 300.000. Kalau sudah tumbuh dua daun harganya naik lagi jadi Rp 450.000. Apa artinya? Artinya dahsyat Jika Anda punya satu anthurium bertongkol satu, dengan asumsi si tongkol atau spadix itu memuat 1.000 biji saja, Anda sudah bisa bermimpi menjadi miliarder dadakan, apalagi kalau anthurium Anda bertongkol 5 buah sekaligus. Asyik, bukan? Coba, bisnis macam apa di zaman sekarang yang dalam tempo tidak berapa lama kita bisa meraup untung sedemikian lumayan? Makanya, di Karangpandan, Solo, ada penjual anthurium yang merayu pembelinya dengan menyebut anthurium sebagai percetakan uang tapi pemiliknya tak perlu takut digerebek polisi. Tapi semua itu cuma teori, Bung! Demam anthurium wave of love atau gelombang cinta, beberapa pekan lalu, jadi contoh. Selama September harga anthurium berdaun keriting tebal yang populasinya dikenal banyak karena banyak dimiliki rakyat itu tiba-tiba bergolak. Dari harga Rp 5 juta, mencapai harga Rp 90 juta untuk jenis indukannya. Tapi tak sampai sebulan harga itu tahu-tahu merosot tajam. Ada yang menduga, para pemainnya kurang bermain cantik. Maklum, berbeda dengan pemain jenmanii yang umumnya para cukong, pemain wave of love adalah kelas menengah bawah. Tentu saja mereka sangat rentan terhadap Lebaran, anak-anak sekolah, atau libur akhir tahun. Sadar Lebaran mendekat, biji dan bibitan diobral. Harganya pun kini hancur lebur. Ada yang cerita --mudah-mudahan hanya kabar burung-- di sebuah daerah pinggiran Jakarta, ada orang bunuh diri gara-gara kalah main wave of love. Dia melego dua mobil untuk membeli satu pot anthurium dengan harapan bisa membeli empat mobil, tahu-tahu harga melesak jatuh. Pertanyaan klise: sampai kapan orang siuman dari mimpinya? Orang yang bermimpi mana tahu, kapan bakal siuman, itu jawabannya. Selamat Bermimpi! Kurniawan Junaedhie Praktisi Tanaman Hias & Pengarang Buku-Buku Anthurium Tabloid Edisi Khusus Oktober - November 2007
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
|