Rumah di Taman Cibaduyut Indah itu ibarat rumah kedua Jimmy Hans Darmawan. Hampir setiap akhir pekan ia menyambangi hunian di kawasan sentra industri sepatu di Bandung itu. Di sanalah ia melepaskan penat dengan merawat 120 jenis tillandsia. Sambil memegang selang yang terhubung pada kran, satu per satu koleksi disambangi. Begitu melihat ada tanaman kering, Jimmy langsung menyemprot dengan air berdebit rendah. Daun-daun tua digunting dengan hati-hati. Rutinitas sejak 1993 itu tak pernah membuat ia bosan. ‘Aktivitas seperti itu justru mengurangi stres,’ katanya.
Jimmy tak perlu lahan luas untuk menyimpan seluruh klangenannya. Anggota famili Bromeliaceae itu diikatkan pada papan pakis dan centong kayu. Untuk tillandsia berukuran jumbo ditanam dalam pot. Jimmy menata seluruh koleksinya di permukaan ram kawat yang dipasang di dinding garasi. Ada juga yang digantung di selasar rumah. Luasannya tak lebih dari 20 m2.
Tanaman udara
Jimmy mestinya bisa menikmati keunikan tillandsia tanpa harus bolak-balik ke Cibaduyut. Namun, kerabat nanas itu merana saat dipindah ke rumah barunya di kawasan Mekarwangi, sekitar 30 menit dari lokasi rumah lama. ‘Daun banyak yang kering. Mungkin kondisi suhu di rumah baru saya terlalu panas,’ kata karyawan sebuah pabrik tas itu. Akhirnya Jimmy terpaksa ‘berpisah’ dengan ratusan koleksinya itu. Tanaman itu disimpan di rumah lama.
Beruntung tillandsia tak perlu perawatan intensif. Meski hanya ‘dijenguk’ setiap akhir pekan, tanaman udara itu tumbuh subur. Bahkan beberapa di antaranya memamerkan bunga. Menyaksikan bunga tillandsia pemandangan langka karena bunga muncul sekali dalam hidupnya. ‘Ada yang baru berbunga setelah 7 tahun saya rawat,’ ujar pria berkacamata itu.
Berbagai keunikan itulah yang membuat Jimmy kepincut mengoleksi tillandsia. Begitu pertama kali melihatnya di kediaman seorang rekan, ia langsung terkagum-kagum karena tanaman itu ditanam dalam pot tanpa media. Tillandsia menyerap nutrisi dari daun dan akar. Itulah sebabnya ia kerap dijuluki air plant-tanaman udara.
Sosoknya juga menarik. Ada yang daunnya roset dan menjuntai bagaikan pita, ada juga yang seperti duri. Beberapa di antaranya berdaun melintir membentuk spiral. Dari rekannya itu Jimmy membeli koleksi perdananya dengan harga Rp350.000.
Langka
Sejak itulah Jimmy mulai berburu tillandsia. Nurseri Venita di kawasan Lembang menjadi lokasi perburuan favorit. ‘Setiap kali ada jenis baru, Jimmy orang pertama yang dihubungi,’ ujar Erminus Temmy dari Venita.
Kini beberapa jenis langka juga hadir di halaman rumah Jimmy. Salah satunya Tillandsia streptophylla. Jenis itu masih jarang ditemukan di tanahair. Ujung daunnya keriting. Karena itulah diberi nama Streptophylla-berasal dari bahasa Yunani yaitu streptos yang berarti melintir dan phyllus, artinya daun. Tanaman yang pertama kali ditemukan Scheidweller pada 1836 itu juga kerap dijuluki tillandsia shirley temple, aktris cilik Hollywood era 1970-an yang berambut ikal.
T. streptophylla tergolong tillandsia berukuran jumbo. Panjang daun tanaman dewasa minimal 18 cm. Tinggi tanaman bisa mencapai 60 cm. Sedangkan jenis lain rata-rata panjang daunnya hanya 5-7 cm.
Jenis langka lain yang dikoleksi Jimmy adalah Tillandsia xerographica. Tanaman asal El Savador, Meksiko itu juga tergolong tillandsia bongsor. Sosoknya menarik karena berdaun tipis dan pertumbuhannya roset hingga berdiameter 90 cm. Warna daun hijau berbalut keperakan. Namun, untuk merawatnya perlu kesabaran. Tanaman yang hidup di ketinggian 600-1.800 m dpl itu pertumbuhannya lamban. Sejak dibeli pada 2006, ukurannya tidak bertambah. Jimmy juga mengoleksi hasil silangan antara T. brachycaulos dan T. ionantha serta T. butzii dan T. caputmedusae.
Greenhouse Rp8-juta
Yang juga keranjingan mengoleksi tillandsia adalah Lusanto Tedja. Pria 29 tahun itu baru 6 bulan silam mengumpulkan aneka jenis tanaman asal Amerika Tengah dan Selatan itu. ‘Tillandsia perawatannya mudah. Jadi saya tak khawatir kalau sedang bepergian,’ ujar pemuda yang hobi travelling itu. Pengusaha konveksi di Bandung itu menggantung ke-40 jenis tillandsia koleksinya pada cabang pohon cemara udang.
Nun di Jakarta ada Empi Prasetya yang juga mengoleksi kerabat neoregelia itu. Setiap kali bepergian ke Bandung, Bogor, Semarang, hingga mancanegara-seperti Belanda dan Malaysia-selalu ia sempatkan untuk mencari tanaman epifit itu. Lokasi di daerah panas tak menyurutkan pria 35 tahun itu mengoleksi tillandsia. Maklum, umumnya tanaman itu dibudidayakan di daerah berketinggian di atas 400 m dpl. Pernah suatu kali ia memborong tillandsia dari Malaysia. Baru sepekan di ibukota, daunnya mengering seperti terbakar.
Itulah sebabnya Empi rela mengeluarkan biaya Rp8-juta untuk membuat greenhouse khusus tempat menyimpan 100 jenis koleksinya. Anggota subfamili Tillandsioideae itu disimpan di bawah naungan 2 lapis jaring peneduh berkerapatan 60%. Artinya, sinar matahari yang diterima tanaman hanya 40%.
Untuk menjaga kelembapan, Empi meletakkan ratusan pot tillandsia di permukaan kolam. Saat kemarau tirai jaring peneduh dibuka agar sirkulasi udara lancar. Sedangkan saat hujan tirai ditutup agar suhu panasnya terjaga. Semua itu demi kecintaannya pada tanaman udara. (Imam Wiguna/Peliput: Kiki Rizkika)
http://www.trubus-online.co.id/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=7&artid=1610
This article was translated by Google Translator. Thank you Google.Tillandsia They Fall In Love
Jimmy did not need to save the entire land area klangenannya. Bromeliaceae family members were tied to a board of wood fern and rice ladle. For jumbo-sized tillandsia planted in pots. Jimmy set the whole collection on the surface of the ram wire mounted on the wall of the garage. There are also hanging in the hallway of the house. Luasannya no more than 20 m2.
Air Plants
Jimmy should be able to enjoy the unique tillandsia without having to commute to Cibaduyut. However, relatives of the pineapple was miserable when moved to its new home in the area Mekarwangi, about 30 minutes from the location of the old house. 'Leaves much to dry. Perhaps the temperature conditions at my new house is too hot, 'said the clerk a bag factory. Eventually Jimmy was forced to 'split up' with hundreds of collections that. Plants were kept in the old house.
Tillandsia lucky not need intensive care. Although only 'dijenguk' every weekend, air plants that grow fast. Even some of which show off the flowers. Witnessed a rare sight tillandsia flowers because the flowers appear only once in his life. 'There's a new flowering after 7 years of my care,' said the man's glasses.
The uniqueness is what makes Jimmy attracted tillandsia collected. As soon as the first time I saw it at the residence of a colleague, he was immediately fascinated because the plants grown in pots without the media. Tillandsia absorb nutrients from the leaves and roots. That is why he is often called water plant-plant air.
His figure is also interesting. There is a leaf rosette and dangling like a ribbon, there also are like thorns. Some of them leaved form a spiral twist. Jimmy bought it from his debut collection at a price Rp350.000.
Rare
Since then Jimmy started hunting tillandsia. Venita nursery in Lembang area became a favorite hunting location. 'Every time there is a new type, the first person to be contacted Jimmy,' said Erminus Temmy of Venita.
Now some rare species are also present in Jimmy's home page. One of them Tillandsia streptophylla. This type is still rarely found in the homeland. Curly leaf tip. That's why Streptophylla-named from the Greek meaning of streptos twist and phyllus, meaning leaf. Plant was first discovered in 1836 Scheidweller it is also often called tillandsia shirley temple, actress Hollywood era of the 1970s who had curly hair.
T. streptophylla classified tillandsia jumbo. The length of the leaves of plants grown at least 18 cm. Plant height can reach 60 cm. While other types of average length leaves only 5-7 cm.
Another rare collection is the Tillandsia xerographica Jimmy. Plants from El Salvador, Mexico is also quite tillandsia bongsor. Her figure slim and attractive because of growing leafy rosette up to 90 cm in diameter. Wrapped in silver-green leaf color. However, to take care of her needs patience. Plants that live at an altitude of 600-1800 m above sea level it is growing slowly. Since purchased in 2006, its size is not increased. Jimmy also collects hybrid between T. brachycaulos and T. ionantha and T. butzii and T. caputmedusae.
Greenhouse Rp 8-million
Are also avid collecting tillandsia is Lusanto Tedja. Male 29 years was only six months ago to collect various kinds of plants from Central and South America. 'Tillandsia easy maintenance. So I do not worry if you're traveling, 'said the young man's hobby of traveling. Employers convection in Bandung was hanging all 40 types tillandsia collection on pine tree branch shrimp.
Nun in Jakarta there are also collects EMPI Prasetya neoregelia's relatives. Every time traveling to Bandung, Bogor, Semarang, to foreign countries-such as the Netherlands and Malaysia, he was always a time to search for that epiphytic plants. Locations in the heat did not dampen his 35-year tillandsia collected. Understandably, most plants were cultivated in the area above 400 m altitude above sea level. Once he bought tillandsia from Malaysia. New week in the capital, such as dry leaves on fire.
That is why EMPI willing to pay Rp 8-million to create a special place to store greenhouse 100 species collection. Tillandsioideae subfamily members were kept in the shade of two layers of 60% density shade nets. That is, the sunlight received by plants only 40%.
To maintain humidity, EMPI tillandsia putting hundreds of pots on the surface of the pond. When the dry shade net curtains opened for air circulation smoothly. While the rain curtains closed so that the temperature of the heat alert. All of that for the sake of his love of air plants. (Imam Wiguna / Covering: Kiki Rizkika)
http://www.trubus-online.co.id/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=7&artid=1610










